balibercerita.com –
Di balik gemerlap pariwisata Legian, tersimpan kompleksitas persoalan yang tak selalu kasat mata. Aduan warga datang silih berganti, dari urusan administrasi, sengketa warisan, hingga persoalan yang beraroma mistis. Semua itu kerap bermuara ke meja lurah, sebagai garda terdepan pemerintahan yang paling dekat dengan masyarakat.
Pengalaman unik itu dirasakan Lurah Legian, Putu Eka Martini. Belum lama ini, ia harus turun langsung memediasi persoalan dugaan praktik ilmu hitam, khususnya pelet. Meski mengaku tidak memahami hal-hal berbau klenik, Eka Martini memilih hadir dan mendengarkan, demi membantu warganya menemukan jalan keluar. “Terus terang saya tidak paham tentang yang mistis-mistis, apalagi ilmu hitam. Tapi laporan dari masyarakat, tentu harus coba kita bantu selesaikan,” ungkapnya Kamis (5/2).
Bagi Eka Martini, kunci penyelesaian berbagai persoalan terletak pada komunikasi yang terbuka. Ia menilai, banyak konflik justru membesar karena ego dan prasangka yang dibiarkan tumbuh. Dengan kepala dingin dan ruang dialog yang jujur, masalah seberat apapun dirasa dapat dicarikan solusi.
“Mari selesaikan persoalan dengan kepala dingin. Ini penting, apalagi bagi Legian yang merupakan destinasi pariwisata, kondusivitas wilayah sangatlah dibutuhkan,” sebut Eka Martini, yang juga merupakan salah satu penerima Anugerah Paralegal Justice Award 2023.
Pendekatan itu pula yang akhirnya membuahkan hasil. Dugaan praktik ilmu hitam berhasil diselesaikan setelah para pihak duduk bersama, saling mendengar, dan sepakat pada solusi terbaik. “Jadi intinya keterbukaan,” imbuhnya.
Tak hanya soal mistis, dinamika sosial di Legian juga kerap diwarnai persoalan antar tetangga. Keluhan bisa muncul antara warga dengan warga, pelaku usaha dengan usaha lain, hingga warga dengan pelaku usaha. Namun pola penyelesaiannya tetap sama, yakni dialog dan saling memahami.
“Seperti belum lama ini ada yang mengeluhkan pembangunan sebuah akomodasi wisata di sebelah, karena jendelanya yang menghadap ke hotelnya. Jendela itu dikhawatirkan bisa digunakan untuk mengintip tamu-tamu di hotelnya. Selain itu, ada pula yang mengeluhkan suara ayam berkokok, hingga akhirnya vila yang mengeluhkan suara ayam itu yang membeli ayamnya,” tuturnya. (BC5)


















