Cuaca Ekstrem Perparah Abrasi di Pantai Kuta

0
143
Abrasi Pantai Kuta
Abrasi di salah satu titik Pantai Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Cuaca ekstrem yang disertai gelombang laut tinggi dalam beberapa waktu terakhir membuat kondisi pesisir di Pantai Kuta semakin memprihatinkan. Di sejumlah titik, garis pantai terlihat terus terkikis akibat abrasi yang semakin parah.

Meski berbagai upaya penanganan jangka pendek telah dilakukan oleh Pemerintah Kabupaten Badung, kuatnya gempuran ombak masih terus menggerus bibir pantai yang selama ini menjadi salah satu ikon pariwisata Bali. Bendesa Adat Kuta, I Komang Alit Ardana mengakui abrasi di Pantai Kuta tahun ini tergolong cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal tersebut tidak terlepas dari kondisi alam dan siklus cuaca ekstrem yang terjadi belakangan ini.

Baca Juga:   ITDC Tegaskan Komitmen Sosial Lewat Penyaluran Hewan Kurban di Tiga Kawasan Pariwisata

“Memang tahun ini termasuk cukup parah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Cuaca ekstrem, curah hujan tinggi, dan siklus badai membuat kondisi pantai lebih cepat tergerus,” jelasnya dikonfirmasi, Senin (9/3).

Menyikapi kondisi tersebut, Pemerintah Kabupaten Badung bersama pemerintah pusat mulai memperkuat langkah penanganan abrasi dengan membangun struktur pelindung pantai berupa breakwater. Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa mengatakan bahwa saat ini Balai Wilayah Sungai (BWS) sudah mulai melakukan pemasangan breakwater di kawasan pesisir sebagai upaya menahan kekuatan ombak yang menyebabkan abrasi.

Baca Juga:   Pemkab Badung Finalisasi Pendataan Potensi Pajak Daerah

“Abrasi sekarang sudah kita ambil langkah. Terbukti BWS sedang memasang breakwater yang merupakan salah satu upaya untuk menahan gempuran ombak agar tidak semakin terjadi abrasi,” ujarnya.

Selain dari pemerintah pusat, Pemkab Badung juga menyiapkan anggaran dari APBD untuk melanjutkan pembangunan breakwater di kawasan pesisir Badung. Pembangunan pelindung pantai harus menjadi prioritas utama sebelum pemerintah melakukan penataan kawasan pantai secara menyeluruh. Tanpa perlindungan terhadap abrasi, penataan pantai dikhawatirkan tidak akan bertahan lama.

Baca Juga:   Siswa SMPN 2 Kuta Diduga Tidak Terpapar Covid-19 di Sekolah

“Tahun ini kita juga melanjutkan dari APBD sebagai bentuk komitmen daerah untuk mengamankan Pantai Kuta. Setelah perlindungan pantai terbangun barulah dilakukan penataan kawasan pantai. Kalau sekarang ditata tanpa penanganan abrasi, justru akan mubazir,” jelasnya.

Ia menambahkan, pada tahun ini Pemkab Badung mengalokasikan anggaran sekitar Rp250 miliar untuk pembangunan breakwater lanjutan di sepanjang pesisir mulai dari kawasan Seminyak hingga Canggu. Pembangunan tersebut diharapkan mampu mengurangi dampak abrasi sekaligus melindungi kawasan pesisir yang menjadi pusat aktivitas pariwisata dan ekonomi masyarakat di wilayah Badung. (BC5)