Cerita 42 Tahun Slank: Mimpi Bersama, Nilai Hidup, dan Tribut untuk Bunda

0
144
Slank
Slank bersama sejumlah artis Bali. (ist)

balibercerita.com –
Dalam perjalanan panjang musik Indonesia, Slank menjadi satu dari sedikit band yang mampu bertahan lebih dari empat dekade. Di usia ke-42 tahun, band yang bermarkas di Gang Potlot ini kembali merayakan kiprahnya lewat konser HUT di Pantai Mertasari, Sanur, pada Sabtu (27/12) malam. Hal ini sekaligus menghadirkan cerita tentang semangat, kesetiaan, dan nilai hidup yang membuat mereka tetap awet hingga sekarang.

Drummer sekaligus pendiri Slank, Bimbim menyampaikan bahwa usia 42 tahun bukan sekadar angka. Baginya, kekuatan Slank selama ini bertumpu pada prinsip yang sederhana tetapi kokoh. “Sila ke-5 Pancasila selalu diterapkan di Slank, karena keadilan yang membuat kita berkumpul dan bertahan lama,” ungkap Bimbim.

Menurutnya, mimpi bersama menjadi alasan Slank tetap solid. Sebuah kelompok kalau tidak punya mimpi bersama tentu akan sulit. Merrka selalu mencari mimpi bersama dan itu yang membuat mereka terus bergandengan tangan. Ia juga menekankan pentingnya menjaga adab dan tata krama dalam kebersamaan. Nilai itu menjadi pegangan mereka selama puluhan tahun.

Baca Juga:   Marc Marquez Datang ke Mandalika Sebagai Juara Dunia, Siap Adu Gengsi di MotoGP Indonesia 2025

Bimbim tak menutupi bahwa 2025 menjadi tahun yang berat bagi Slank karena kehilangan sosok Bunda Iffet. Ia memastikan spirit Bunda tetap mereka jaga, terutama pesan penting untuk menjauhi narkoba. Dalam konser 42 tahun Slank, mereka menampilkan segmen khusus tribut untuk sang tokoh penting di balik Slank. “Saat momen ultah, Bunda pasti ngoceh dan speech di panggung. Tapi sekarang tidak. Tiap tahun saya masih nangis kok,” ungkap Bimbim.

Baca Juga:   Lucas Leiva Tutup Lawatan ke Indonesia dengan Fun Match Seru di Bali

Kaka sang vokalis menambahkan, Slank mampu bertahan karena bersifat organik. Lagu-lagu mereka selalu diwariskan antargenerasi, menciptakan hubungan yang tak pernah putus. “Kenapa masih semangat bikin karya, tur, dan kolaborasi? Karena kita berjiwa nakal. Itu yang membuat kita selalu ingin bikin sesuatu, membuat kesenangan,” ujarnya.

Kaka juga menyoroti hubungan Slank dengan Slanker yang semakin dekat. Jika dulu masukan datang lewat surat, kini digitalisasi membuat komunikasi mereka lebih cepat dan responsif. “Banyak input dan insight agar kita tetap eksis,” tambahnya.

Meski tetap aktif bermusik, masing-masing personel juga menjalani aktivitas berbeda di kehidupan pribadi. Bimbim memgaku mengurus keluarga dan hobi jalan-jalan. Kaka menekuni bertani di rumah, sering menghabiskan waktu di Bali dan Sanur, serta tahun ini ingin lebih banyak bersantai di kawasan Legian. Ridho mengaku menempuh kuliah ekonomi pariwisata semester 6 dan baru saja lulus studi pilot, bahkan sudah mulai terbang.

Baca Juga:   UMKM Perempuan Desa Golo Mori Unjuk Gigi, Tunjukkan Kekuatan Ekonomi Lokal

Ivanka merawat kucing, ikan koi, serta orang tua dan keluarga. Ia juga memiliki usaha kecil. Abdee, menikmati aktivitas membaca dan menjalani rutinitas harian.

Di usia 42 tahun, Slank bukan hanya band senior mereka adalah kisah tentang persahabatan, nilai hidup, konsistensi, dan kemauan untuk terus berkarya. Dengan mimpi yang terus diperbarui, semangat nakal yang tak pernah padam, serta hubungan erat dengan para Slanker, Slank menunjukkan bahwa perjalanan mereka masih jauh dari kata selesai. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini