balibercerita.com –
Suara merdu Bunga Citra Lestari (BCL) menggema di Pulau Peninsula, Sabtu (25/10) malam, menutup hari pertama The Nusa Dua Festival 2025 dengan kemasan romansa, nostalgia, dan harmoni yang memikat. Dalam balutan tema “Beauty Harmony”, BCL sukses menghidupkan kembali semangat festival yang sempat vakum selama lima tahun terakhir.
Ribuan penonton memadati area festival, larut dalam setiap nada dan lirik yang telah menjadi bagian dari perjalanan musik Indonesia dua dekade terakhir. Dari awal hingga akhir, energi panggung BCL terasa begitu hangat, berpadu dengan gemerlap cahaya dan semilir angin laut di Peninsula. “Senang sekali bisa tampil di Bali, apalagi di Nusa Dua yang suasananya selalu romantis dan damai. Malam ini aku ingin semua orang bernyanyi dan merayakan cinta bersama,” ujar BCL dari atas panggung.
Penyanyi yang akrab disapa Unge itu membawakan 10 lagu, termasuk dua karya baru yang belum pernah ditampilkan di panggung besar sebelumnya. Penampilannya dibuka dengan lagu “Verture”, disusul “Dance Tonight,” “Pernah Muda,” “Kecewa,” dan “Ingkar.”
Suasana berubah lebih emosional ketika BCL membawakan “Cinta Sejati” dan “Selalu Ada di Nadimu,” sebelum kembali mengobarkan semangat lewat duet virtual “Aku dan Dirimu.”
Menjelang akhir pertunjukan, dua lagu pamungkas, “Karena Ku Cinta Kau” dan “Badai Telah Berlalu” (lagu baru) menjadi puncak malam yang menggugah. Penonton ikut bernyanyi bersama, menjadikan konser itu terasa seperti perayaan kolektif atas cinta dan kenangan.
Salah satu penonton, Novianti (29), mengaku tak bisa berhenti ikut bernyanyi. “Suasana romantis banget, apalagi waktu ‘Cinta Sejati’ dibawakan. Rasanya kayak nostalgia bareng ratusan orang yang punya kenangan yang sama,” ujarnya dengan senyum lebar.
Pertunjukan BCL menegaskan posisi The Nusa Dua Festival sebagai salah satu ajang musik dan budaya terbesar di Bali, tempat di mana seniman, alam, dan penonton berpadu dalam satu harmoni.
BCL menutup penampilannya dengan lambaian tangan dan ucapan terima kasih, diiringi tepuk tangan panjang serta kembang api yang mewarnai langit Peninsula menjadi simbol indah dari kembalinya festival dan semangat Bali yang terus hidup lewat musik. (BC5)
















