BHA Bali Perkuat Gerakan Zero Waste dan Sustainability

0
109
BHA Bali
Kompetisi memasak yang digelar BHA Bali. (ist)

balibercerita.com –
Di tengah meningkatnya tekanan global terhadap industri pariwisata untuk lebih ramah lingkungan, Bali Hotel Association (BHA) Bali mengambil langkah besar. Dengan 171 hotel anggota, BHA kini memperkuat gerakan zero waste dan mengubah pola pikir ribuan pekerja hotel agar Bali tetap menjadi destinasi berkelanjutan dunia.

Ketua Bali Hotel Association (BHA), Franklyn Kocek menerangkan, pihaknya terus berupaya mempercepat implementasi gerakan zero waste melalui berbagai program konkret, mulai dari pengurangan plastik hingga pengolahan sisa makanan. Komitmen ini tidak hanya berbicara soal infrastruktur, tetapi juga perubahan perilaku ribuan pekerja hotel di seluruh Bali.

Menurut Franklyn, BHA memiliki divisi director of sustainability yang secara khusus bertanggung jawab mendorong setiap hotel anggota untuk memperbaiki praktik pengelolaan lingkungan. Divisi ini bekerja memastikan hotel-hotel berhenti menggunakan air minum dalam kemasan, mengurangi residu plastik, hingga mengolah sampah organik di dalam area hotel. “Divisi sustainability ini yang mendrive para member agar tidak lagi menggunakan air minum dalam kemasan, mengurangi residu plastik, dan mengolah sendiri sampah organik di lingkungan hotel mereka,” jelasnya.

Baca Juga:   The H Day Mixology Competition 2023, Jaring Bartender Terbaik Indonesia

BHA juga menangani isu sisa makanan dengan pendekatan yang lebih manusiawi. Untuk makanan yang masih tersisa di meja buffet dan masih dalam kondisi layak, BHA bekerja sama dengan berbagai mitra, termasuk Secolar of Sustain, sebuah NGO yang mengolah kembali makanan tersebut untuk kemudian dibagikan kepada masyarakat kurang mampu. “Inilah cara kami memastikan sisa makanan yang masih layak tidak terbuang percuma, tetapi bisa menjadi manfaat bagi orang lain,” katanya.

Baca Juga:   Bali Ditarget Jadi Barometer Utama Performing Right di Indonesia

Sementara itu, sisa makanan organik yang tidak dapat dimanfaatkan kembali diproses melalui fasilitas teba modern, yang pembangunannya sejalan dengan kebijakan Pemerintah Provinsi Bali sejak pertengahan 2024. Franklyn mengakui bahwa implementasinya masih berjalan secara bertahap, tetapi komitmen anggota BHA tetap kuat.

“Kami terus meminta para member untuk membuat teba modern. Bila tidak memiliki lahan, mereka harus bekerja sama dengan area sekitar hotel dan warga untuk membuat fasilitas seperti teba modern atau tong komposter, sesuai yang disarankan pemerintah,” imbuhnya.

Franklyn menekankan bahwa tantangan terbesar dalam mewujudkan zero waste bukanlah soal teknologi atau biaya, melainkan mindset. Budaya memilah sampah, katanya, bukan bagian dari kebiasaan sebagian besar masyarakat selama ini. “Zero waste kalau bicara tantangan selalu ada. Yang paling berat adalah mindset. Kita terlahir tidak biasa dengan zero waste, bahkan memilah sampah pun masih susah karena bukan kultur kita,” ujarnya.

Baca Juga:   Wolf Alice Siap Guncang Jakarta, Tampilkan Era Baru dalam Tur Asia Tenggara

Dengan total 33 ribu karyawan yang bekerja di hotel-hotel anggota BHA, edukasi menjadi pekerjaan besar sekaligus penting. BHA tidak hanya mendorong praktik ramah lingkungan di tempat kerja, tetapi juga berharap kebiasaan tersebut diterapkan di rumah masing-masing. “Kami ingin praktik ini tidak berhenti di hotel saja, tapi dibawa ke rumah. Jika itu terjadi, dampaknya akan jauh lebih besar,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini