
Mangupura, balibercerita.com –
Sebuah video yang memperlihatkan aktivitas paralayang di atas area yang diduga Pura Dang Kahyangan Gunung Payung baru-baru ini viral di media sosial. Menanggapi hal ini, Bendesa Adat Kutuh, Jro Mangku Nyoman Mesir menyampaikan keberatan terhadap unggahan tersebut yang dianggap menyesatkan dan berpotensi menyinggung kesucian pura.
Dalam pernyataannya, Jro Mangku menegaskan bahwa video tersebut diambil dari sudut yang menyesatkan, seolah-olah menunjukkan aktivitas terbang tepat di atas pura. “Kalau mau membuktikan itu terbang di atas pura, harus dilihat secara tegak lurus. Kalau di video tidak mungkin. Kalau dilihat dari angle-nya, itu miring dan dari ketinggian tinggi. Jadi bisa saja terlihat pura di bawah, padahal lintasannya tidak melewati pura,” ujarnya.
Ia juga menyatakan keberatan atas tindakan mengunggah konten tanpa izin yang kemudian menjadi viral. Hal itu bisa saja dituntut balik oleh pihaknya, apalagi jika sifatnya untuk mencari keuntungan dari adsence. Diharapkan ke depan, semua pelaku wisata maupun wisatawan lebih bijak dalam membuat dan menyebarkan konten, serta menghormati kearifan lokal dan aturan yang berlaku.
Desa Adat Kutuh, ditegaskannya, sangat menjaga kesucian kawasan Pura Gunung Payung. Apalagi Pura Gunung Payung merupakan kahyangan jagat dan keberadaannya tidak boleh disinggung secara sembarangan, terlebih dilintasi oleh aktivitas wisata ekstrem.
“Kami tidak mungkin membiarkan siapapun terbang di atas pura. Itu adalah tempat suci yang kesuciannya kami jaga,” jelas Jro Mangku.
Desa Kutuh sendiri mengelola unit usaha paralayang secara legal dan profesional, termasuk memiliki izin usaha, izin terbang, serta kapten dan pilot bersertifikat. Paralayang yang diizinkan beroperasi sistemnya tandem, dengan pilot berasal dari lokal, sehingga paham mana titik-titik yang tidak boleh dilalui. Penerbangan solo sudah dilarang karena pernah ada kecelakaan fatal.
Kekhawatirannya justru datang dari pelaku usaha luar desa yang tidak mengetahui rambu-rambu yang dipasang di Kutuh. Mereka sering terbang ke wilayah Kutuh, padahal teritorial usaha berada bukan di Kutuh.
Terkadang antara penerbang saling adu mulut di udara terkait hal itu. Ia juga pernah menegur usaha terkait dan melayangkan surat resmi kepada pihak paralayang yang beroperasi di kawasan Sawangan.
“Usaha mereka di Sawangan ya cukup di Sawangan. Jangan melewati batas ke arah barat, apalagi sampai ke kawasan Gunung Payung,” imbuhnya sembari menerangkan bahwa pihak desa tidak punya kewenangan langsung melarang karena hal itu menjadi ranah pemerintah, TNI AU, FASI, hingga pemerintah kabupaten.
Menanggapi video viral tersebut, Manajer Gunung Payung Paragliding, Ketut Manda, memberikan klarifikasi. Menurutnya, berdasarkan inspeksi lapangan bersama TNI, FASI Bali, Bendesa Adat Kutuh, dan Direksi BUMDA, posisi terbang dalam video tersebut tidak berada di atas pura.
“Saya jamin 100 persen lintasan terbang itu jauh dari pura. Bahkan titiknya berada di atas laut, bukan di atas pura. Kami paham aturan dan sopan santun. Kami orang Hindu, kami tidak mungkin mencemari kesucian pura,” jelas Manda.
Ia juga menambahkan bahwa secara teknis, terbang di atas pura justru sangat berisiko karena adanya turbulensi di area belakang tebing. Ia selalu terbang di samping tebing, karena arah angin yang bagus ada di depan pura. Di belakang pura justru zona berbahaya karena turbulensi. (BC5)

















