BBMKG Ungkap Penyebab Gelombang Tinggi di Perairan Bali

0
301
Gelombang tinggi
Deburan ombak tinggi saat bertemu tebing Peninsula yang menjadi Waterblow. (ist)

Denpasar, balibercerita.com –
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mengungkapkan penyebab terjadinya gelombang tinggi yang melanda wilayah perairan Bali dalam beberapa hari terakhir. Fenomena ini dipicu oleh adanya tekanan udara tinggi di perairan barat Australia yang menyebabkan terbentuknya gelombang alun (swell) yang menjalar ke utara menuju perairan selatan Indonesia, termasuk Bali.

Wulan Wandarana, Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar menerangkan, berdasarkan model gelombang BMKG untuk wilayah perairan Selatan Bali menunjukkan adanya peningkatan tinggi gelombang laut yang mencapai 4 meter atau masuk dalam kategori gelombang tinggi. Beberapa wilayah perairan wisata seperti Kuta, Seminyak, Legian, Pecatu, Jimbaran, hingga Nusa Dua turut terdampak. Di wilayah perairan Nusa Dua, tinggi gelombang diperkirakan mencapai 1 hingga 3,5 meter.

Baca Juga:   Realisasi Proyek Normalisasi Tukad Unda Lampaui Target

BBMKG mencatat gelombang tinggi dengan kisaran 2,5 hingga 4 meter masih berpotensi terjadi dalam tiga hari ke depan, terutama di wilayah perairan selatan Bali seperti Selat Bali bagian selatan, Selat Badung, Selat Lombok bagian selatan, serta perairan langsung di selatan Pulau Bali. BBMKG menekankan pentingnya kehati-hatian terhadap aktivitas pelayaran dan wisata laut, serta pentingnya mengakses informasi resmi secara berkala demi keselamatan bersama.

Baca Juga:   ROTY 2025 Digelar di Ubud, Soroti Pariwisata Regeneratif Melalui Filosofi Wayang

Selain gelombang tinggi, kecepatan angin juga menjadi perhatian. Di wilayah perairan utara maupun selatan Bali, pola angin umumnya bergerak dari arah timur hingga tenggara dengan kecepatan berkisar antara 4 hingga 20 knot. Kondisi ini berisiko terhadap keselamatan pelayaran, terutama bagi perahu nelayan saat kecepatan angin mencapai 15 knot dan gelombang 1,25 meter. Kapal tongkang berbahaya jika angin mencapai 16 knot dan gelombang 1,5 meter. Kapal ferry terancam keselamatannya saat angin mencapai 21 knot dan gelombang 2,5 meter.

Baca Juga:   Pertamina Beri Penghargaan kepada 11 Universitas dalam Ajang Pertamuda 2021–2024

Sementara itu, di Selat Lombok bagian utara, gelombang berkisar antara 1,25–2,5 meter juga berpeluang terjadi dan dapat membahayakan aktivitas pelayaran. “Situasi ini masih berpotensi berlangsung hingga beberapa hari ke depan. Kami mengimbau masyarakat, terutama nelayan dan pelaku kegiatan wisata bahari, agar tetap waspada terhadap potensi gelombang tinggi di perairan Bali. Selalu ikuti informasi terkini dari BMKG, khususnya informasi maritim dan peringatan dini,” terangnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini