Bank Sampah Legian Kaja Ubah Sampah Jadi Tabungan Lingkungan

0
42
Bank sampah Legian
Aktivitas di BSLAN Legian Kaja. (ist)

balibercerita.com –
Bank Sampah Legian Aksi Nyata Lingkungan (BSLAN) di Legian Kaja menjadi bukti bahwa perubahan perilaku terhadap sampah dapat dimulai dari lingkup terkecil yaitu komunitas. Dig­erakkan oleh kepedulian dan dijaga melalui edukasi berkelanjutan, BSLAN menunjukkan bahwa menjaga lingkungan bukanlah sesuatu yang rumit.

Digawangi oleh ibu-ibu setempat, BSLAN sejak awal membudayakan pengelolaan dan pengolahan sampah secara mandiri. Di tengah persoalan sampah yang kian kompleks dan kerap dianggap sebagai tanggung jawab pemerintah semata, BSLAN justru memilih untuk bergerak dan mengambil peran nyata.

Sejak dirintis pada 2016, berbagai pola edukasi terus dikembangkan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab. Tidak hanya sebatas memilah dan menabung sampah, tetapi juga membangun pemahaman bahwa setiap individu memiliki peran penting dalam menjaga kelestarian lingkungan. Salah satu figur sentral di balik keberlanjutan gerakan ini adalah Ni Wayan Margiani.

Menurut Margiani, BSLAN kini tidak lagi hanya berfokus pada pengelolaan sampah anorganik bernilai ekonomi. Seiring meningkatnya kesadaran lingkungan, pengolahan sampah organik mulai digarap secara lebih serius dan terstruktur. Melalui kerja sama dengan Bali Wastu Lestari, para nasabah BSLAN diedukasi untuk mengolah sampah organik rumah tangga menjadi pupuk organik cair (POC) dengan memanfaatkan tong komposter.

Baca Juga:   Mahasiswa KKN Unud di Desa Pesinggahan Gelar Workshop Eco-enzyme 

Sampah sisa makanan, dedaunan, hingga bunga bekas canang yang sebelumnya berpotensi menumpuk dan mencemari lingkungan, kini diolah menjadi produk yang bermanfaat. POC tersebut tidak hanya digunakan untuk perawatan kebun masing-masing, tetapi juga dapat dikonversi menjadi tabungan di bank sampah.

Terobosan ini mulai digiatkan sejak Oktober 2025. Hingga kini, sedikitnya 50 nasabah tercatat aktif mengolah sampah organik. Dalam satu periode terakhir, sebanyak 640 liter POC berhasil ditabung oleh warga dan selanjutnya disalurkan BSLAN kepada Bali Wastu Lestari.

Margiani mengungkapkan, praktik pengolahan sampah organik sebenarnya telah ia lakukan secara pribadi sejak setahun sebelumnya. “Saya masukkan sampah bekas makanan, daun-daun, dan bunga bekas canang ke dalam tong komposter, lalu ditambahkan bioaktivator. Sejak muncul rencana penutupan TPA Suwung, saya merasa edukasi ini perlu diperluas agar masyarakat juga bisa melakukan hal serupa,” tuturnya.

Baca Juga:   Relawan Bakti BUMN 2025 Bangkitkan Harapan Warga Mandalika

Awalnya, POC yang dihasilkan hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan pupuk kebun pribadi. Namun seiring waktu, hasil produksinya justru melimpah. Kelebihan inilah yang kemudian ditabung melalui bank sampah, memperluas makna menabung, tidak hanya sebagai aktivitas ekonomi, tetapi juga sebagai tindakan ekologis.

“Sejak awal sudah dua kali kami melakukan jemput bola POC dari nasabah. Oktober 2025 lalu jumlahnya masih sekitar 50 liter karena baru enam orang yang memiliki tong komposter. Sekarang meningkat drastis menjadi 640 liter karena sudah ada 50 nasabah yang aktif,” jelasnya.

Lebih dari sekadar nilai rupiah, Margiani berharap kebiasaan baik ini tumbuh menjadi budaya. Ia mengenang, BSLAN bermula dari 12 orang saja pada 2016. Kini, jumlah nasabah telah mencapai ratusan, tidak hanya dari kalangan masyarakat, tetapi juga pelaku usaha di wilayah Legian Kaja. Jenis sampah yang dikelola pun semakin beragam, mulai dari kardus, botol plastik, dan kertas, hingga minyak jelantah serta hasil panen dari tong komposter.

Baca Juga:   Manfaatkan Momen Pasar Rakyat, Binda Bali Laksanakan Vaksinasi di Lapangan Renon

Sebagai pemantik semangat, Margiani menyebutkan sudah ada nasabah yang berhasil mengumpulkan tabungan hingga belasan juta rupiah hanya dari menabung sampah selama setahun terakhir. “Yang bersangkutan sendiri bahkan tidak percaya ketika melihat saldo tabungannya,” ungkapnya.

Meski demikian, tantangan terbesar masih terletak pada upaya mengajak lebih banyak masyarakat untuk terlibat aktif. Masih ada anggapan bahwa persoalan sampah sepenuhnya merupakan tanggung jawab pemerintah.

“Penanganan sampah adalah tugas bersama. Harus ada kolaborasi antara masyarakat, dunia usaha, dan pemerintah. Pemerintah menyiapkan polanya, masyarakat yang menjalankan. Kalau kita belajar dari Jepang, pengelolaan sampahnya diakui dunia karena pemilahan dilakukan dengan sangat ketat dan dimulai dari warganya,” pungkas Margiani. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini