Mangupura, balibercerita.com
Pemanfaatan sampah plastik sebagai bahan campuran aspal jalan dinilai menjadi solusi inovatif dalam mengatasi permasalahan sampah di Indonesia. Melalui kolaborasi antara Chandra Asri Group dan Asosiasi Ekonomi Sirkular Indonesia, program ini mulai diterapkan secara nyata, termasuk dalam Showcase Nasional Aspal Plastik, di kawasan Jimbaran Hijau, pada Jumat (5/7).
Showcase ini menampilkan hasil konkret pemanfaatan limbah plastik menjadi material infrastruktur yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga meningkatkan kualitas jalan. Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Bima Arya Sugiarto yang turut hadir, menyebut inisiatif ini sebagai contoh nyata solusi sirkular dalam pengelolaan sampah plastik.
“Sekitar 15 persen sampah kita adalah plastik, dan 80 persennya berpotensi mencemari laut. Jika ini tidak dikelola secara inovatif seperti ini, dampaknya akan besar bagi lingkungan,” kata Bima Arya.
Ia menekankan pentingnya pengelolaan dari hulu ke hilir, mulai dari pemilahan sampah hingga pemanfaatannya dalam pembangunan jalan. Pemerintah melalui Kementerian Dalam Negeri akan mendorong kajian lanjutan untuk mendukung kebijakan dan implementasi lebih luas.
Kepala Balai Bahan Jalan Kementerian PUPR, Yohanes Ronny menjelaskan bahwa aspal dengan campuran plastik telah dikaji sejak 2017 dan terbukti mampu meningkatkan kualitas jalan. Setiap kilometer jalan aspal plastik dapat memanfaatkan sekitar tiga ton sampah plastik.
“Dari panjang jalan 120 km yang telah dibangun, kami berhasil mengolah lebih dari 1.500 ton sampah plastik. Ini bisa menjadi bagian penting dari strategi pengelolaan sampah nasional,” ungkap Yohanes.
Direktur Legal, External Affairs & Circular Economy Chandra Asri Group, Edi Rivai menyatakan komitmennya untuk terus mendukung ekosistem ekonomi sirkular melalui pengolahan plastik menjadi aspal. Pihaknya juga telah menyiapkan produk cacahan plastik sesuai spesifikasi teknis Kementerian PUPR. “Kami berharap pemerintah daerah dapat turut serta dalam membangun sistem daur ulang yang inklusif dan bermanfaat luas bagi masyarakat,” ujar Edi.
Kolaborasi multipihak ini menjadi model nyata bagaimana sektor swasta, pemerintah pusat, dan daerah dapat bergandengan tangan dalam menyelesaikan persoalan lingkungan secara berkelanjutan. (BC5)

















