Mangupura, balibercerita.com –
Sebanyak 180 orang siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 1 Badung dari berbagai jenjang menjalani asesmen akhir semester sejak Senin (26/5), hingga Selasa (3/6). Bagi siswa dengan beragam kebutuhan khusus, asesmen ini bukan sekadar ujian, melainkan bagian penting dari proses pembelajaran yang disesuaikan dengan kemampuan masing-masing individu.
Kepala SLB Negeri 1 Badung, Ni Nyoman Suwastarini menegaskan bahwa asesmen dilakukan secara adaptif. “Kami menyusun asesmen sesuai dengan kebutuhan dan karakteristik masing-masing anak agar semua merasa mampu dan termotivasi,” ujarnya.
Asesmen diberikan kepada siswa dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB, kecuali untuk siswa kelas akhir yang telah menuntaskan ujian sekolah dan praktik. Ujian dilakukan mulai pukul 08.00 hingga 11.00 Wita, dengan variasi metode, dari sistem manual hingga ujian berbasis komputer menggunakan Google Form untuk jenjang SMALB.
“Untuk siswa SMALB, kami coba kenalkan teknologi dengan ujian berbasis komputer, tapi tetap dilaksanakan di sekolah dengan pendampingan,” jelas Suwastarini.
Tak hanya soal teori, asesmen juga mencakup keterampilan hidup seperti bina diri dan keterampilan khusus. Siswa SMPLB dan SMALB, misalnya, diuji dalam kegiatan yang mendukung kemandirian mereka di masa depan. “Kami ingin mereka tidak hanya cerdas secara akademis, tapi juga siap menghadapi dunia nyata,” tambahnya.
Yang lebih membanggakan, seluruh siswa dengan hambatan berpikir, pendengaran, penglihatan, hingga fisik mengikuti asesmen tanpa terkecuali. “Kami pastikan tidak ada anak yang tertinggal. Semuanya berhak mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang,” tegas Suwastarini.
Ia juga menyampaikan bahwa tahun ini tidak ada siswa yang putus sekolah, dan semua melanjutkan pendidikannya di SLB Negeri 1 Badung. Pendaftaran siswa baru telah dibuka sejak awal Mei dan berlangsung hingga 7 Juli 2025, dengan persyaratan yang disesuaikan menurut jenis hambatan masing-masing anak.
Melalui asesmen ini, pihak sekolah berharap siswa dapat lebih mengenali potensi diri serta mengetahui area yang perlu ditingkatkan. “Kami ingin anak-anak belajar mengenali kekuatannya sendiri, dan dari sana belajar berkembang dan mandiri,” tutup Suwastarini. (BC5)



















