Petani Kedisan Mandiri: Menjaga Alam dan Tradisi Lewat Pertanian Organik

0
320
Petani Kedisan Mandiri
Ketua Petani Kedisan Mandiri, Putu Yoga Wibawa saat berada di areal sawah yang dikelola kelompoknya. (BC5)

Gianyar, balibercerita.com –
Di tengah perkembangan zaman yang semakin cepat yang membuat pola kehidupan semakin instan, Kelompok Petani Kedisan Mandiri tetap berpegang teguh terhadap tradisi dan keberlanjutan. Mereka membuktikan bahwa pelestarian alam dapat bersinergi dengan pariwisata melalui pertanian organik.

Kelompok tani ini berdiri pada 25 Desember 2020. Berawal dari diskusi tentang keresahan atas degradasi lahan pertanian dan ekosistem sawah akibat penggunaan bahan kimia. Mereka menghimpun diri untuk menekuni sistem pertanian organik secara berkelanjutan, dengan jumlah anggota 25 orang.

Pertanian organik dipilih karena didasari beberapa hal, yaitu hasil panen tidak seimbang dengan produksi, melimpahnya limbah organik dari sekitar, lahan pertanian yang kurang maksimal menghasilkan, dan kebutuhan menghasilkan pangan yang sehat. Sistem pertanian organik merupakan sistem pertanian yang selaras dengan pelestarian alam dan budaya agraris.

Nama kelompok Petani Kedisan Mandiri diambil dengan beberapa filosofi makna. Kata petani menunjukan jati diri mereka yang menekuni sektor tani. Kedisan merupakan tempat tinggal mereka dan Mandiri merupakan semangat pertanian mereka yang mengusung pola dari hulu sampai hilir.

Eksistensi Petani Kedisan Mandiri didukung Desa Kedisan, terlebih konsep pertanian organik ini menjadi daya tarik kunjungan wisata agraris. Sejak 26 April 2022, kelompok tani ini juga telah tersertifikasi organik oleh lembaga independen yang ditugaskan Pemprov Bali.

Baca Juga:   Akhir Petualangan AS, Anggota Sindikat Ndrangheta

Luasan area pertanian di Desa Kedisan sekitar 37 hektar dengan 170 orang anggota. Mereka dinaungi oleh 2 subak, yaitu Kedisan Kaja dan Kelod. Saat ini lahan yang digarap secara organik seluas 4,11 hektar dan sisanya bertahap menuju organik. Dengan sistem organik yang ditekuni, semua petani masih melestarikan budaya lokal dan tradisi bertani yang sejak dulu ada tanpa menggunakan bahan kimia.

“Dari luasan lahan 4,11 hektar ini kami menghasilkan 20 ton gabah atau sekitar 10 ton beras dalam sekali panen. Panen kita setahun 2 kali. Beras sebagian besar kita pergunakan untuk ketahanan pangan desa, yang keluar beredar baru 4-5 ton. Merk beras kita Srigati beras organik, itu dijual 30 ribu per kilogram untuk harga eceran,” ungkap Putu Yoga Wibawa, Ketua Kelompok Petani Kedisan Mandiri.

Sistem kerja kelompok ini masih mengandalkan gotong royong. Dalam proses produksi, mereka memanfaatkan limbah organik dari lingkungan sekitar dan limbah peternakan untuk membuat kompos dan pupuk cair. Salah satu inovasi mereka adalah penggunaan bio-urine sapi sebagai pupuk cair alami serta sistem kolam “andungan” di sawah yang membantu memulihkan ekosistem perairan.

Kompos maupun pupuk cair semuanya diproses secara alami menggunakan bio urin dari ternak sapi dari program UPPO (unit pengolahan pupuk organik). “Jumlah sapi kami semula berjumlah 8 ekor dan kini bertambah 2 ekor dari bantuan ITDC. Kami mengucapkan terima kasih kepada ITDC yang memberikan bantuan ini. Selain membuat petani kami mempunyai pekerjaan tambahan, tentunya ini membuat bahan pupuk organik semakin melimpah,” sebutnya.

Baca Juga:   Badung Education Fair 2022, Bangkitkan Ekosistem Pendidikan Pascapandemi Covid-19

Berkat metode pertanian organik yang diterapkan, biota khas sawah yang sebelumnya hilang kini mulai kembali bermunculan sejak lima tahun terakhir. Kondisi tanah juga menjadi lebih subur, kemampuan padi menyerap nutrisi tanah, gulma berkurang, dan kualitas hasil panen lebih bagus dan tahan lama. Salah satu padi lokal varietas unggul yang dibudidayakan kelompok ini adalah padi cendana merah bali.

Padi ini merupakan warisan pertanian Bali yang kini mulai langka. Perawatannya dilakukan secara berkala dengan metode khusus sesuai standar pertanian organik.

Harapan utama Kelompok Petani Kedisan Mandiri adalah terwujudnya pertanian organik yang berkelanjutan, mendorong kedaulatan pangan, dan menciptakan kemandirian petani. Mereka juga ingin memperluas proses pertanian dari hulu hingga hilir, sehingga semua tahapan produksi bisa dikelola sendiri oleh petani dengan prinsip ramah lingkungan.

Namun, tantangan tidak sedikit. Salah satu yang paling berat adalah serangan hama tikus karena kelompok ini tidak menggunakan pestisida kimia. Serangan ini bisa menyebabkan kerugian hingga 30–40 persen. Untuk mengatasi hal ini, mereka mengembangkan pengendalian hayati dengan memanfaatkan burung hantu jenis tyto alba. Mereka berharap adanya bantuan rumah maupun burung hantu agar metode ini bisa dioptimalkan.

Baca Juga:   Banjir Terjang Pasar Kerobokan dan Pasar Pengosari, Ketinggian Air Sempat Capai 4 Meter

Selain hama, perubahan pola pikir petani menuju pertanian organik juga menjadi tantangan tersendiri. Alih fungsi lahan menjadi momok lain yang dihadapi. Beberapa petani tergoda menjual sawah untuk dijadikan vila atau bangunan komersial. Namun kelompok berupaya menekankan pentingnya bertahan melalui penguatan nilai dan kearifan lokal. Hasilnya, kawasan ini justru mulai dilirik wisatawan.

Kelompok pun mengembangkan paket wisata ramah lingkungan yang memperkenalkan budaya, pertanian organik, dan kehidupan desa secara apa adanya. Setiap tahun, mereka menerima kunjungan studi banding dari mahasiswa maupun praktisi pertanian.

Untuk menjaga keberlanjutan ini, kelompok juga berencana menyusun awig-awig atau aturan adat agar alih fungsi lahan dapat dicegah. “Kami ingin petani tetap didukung agar keinginan untuk mengalihfungsikan lahan hilang. Karena pertanian organik sudah mulai menghasilkan dan mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Putu Yoga.

Dengan dukungan sumber daya alam yang masih terjaga, lingkungan yang asri, dan air bersih dari hulu, Kelompok Petani Kedisan Mandiri berharap produk mereka bisa terserap oleh pasar yang lebih luas. Mereka juga membuka peluang kerja sama, termasuk dengan ITDC dan pihak lain, agar pertanian lokal bisa terus berkembang tanpa harus mengorbankan lahan atau kearifan lokal. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini