Mangupura, balibercerita.com –
Perbaikan 2 palinggih di Pura Dang Kahyangan Gunung Payung diperkirakan menelan anggaran sebesar Rp440 juta lebih. Anggaran ini belum termasuk dana upacara jika sudah rampung dikerjakan.
Proyek ini diharapkan tidak hanya menjadi upaya pemulihan fisik pura, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan dan kekompakan masyarakat dalam menjaga keberlanjutan warisan budaya dan keagamaan.
Selaku Undagi, I Made Sudarma Yasa menerangkan bahwa proses perbaikan palinggih Meru Tumpang Tiga mulai dilaksanakan pada Rabu (15/12). Bahan palinggih terbuat dari kayu yang memiliki keharuman khusus dan sangat langka, yaitu kayu jenis majegau dari hutan Pupuan, Tabanan. Proses penebangan kayu telah dilaksanakan pada 20 November 2023, sesuai hari baik untuk menebang pohon.
Setelah 12 hari setelah kayu ditebang, dilakukan proses pengeringan dengan cara mengoven. Hal itu dilakukan agar kayu tidak memerlukan waktu yang lama untuk kering, sehingga dapat dengan cepat dikerjakan.
Seluruh pengerjaan dilakukan dengan memperhatikan aspek keagamaan dan tradisional, termasuk pemilihan waktu yang baik dan prosedur khusus dalam penebangan kayu.
“Untuk kesulitan, awalnya terkait menemukan undagi yang tepat. Namun berkat jawaban lewat mimpi, akhirnya ditemukan orang yang siap membantu dalam proses perbaikan meru. Kita libatkan 4 orang untuk mengukir dan 6 orang untuk pengerjaan batunya. Kalau mendesak, ini akan ditambah lagi,” ungkapnya.
Dipaparkannya, kayu pohon majegau memiliki ukuran cukup besar. Kayu yang paling besar akan menjadi tiang utama dari total 9 saka atau tiang yang dibuat pada palinggih. Saka utama ini akan diletakkan di bagian tengah Meru Tumpang Tiga.
Tiang utama ini memiliki tinggi 5 meter, sedangkan untuk 9 saka lainnya memiliki tinggi 145 centimeter. Atap bangunan meru tetap menggunakan ijuk yang berasal dari Bali. Rencananya, atap meru akan digarap terpisah oleh undagi atap asal Blahbatuh, Gianyar. (BC5)














