Yogyakarta, balibercerita.com –
Perempuan pelaku usaha agar lebih berkontribusi terhadap pertumbuhan perekonomian nasional yang berdaya saing global. Hal tersebut terungkap dalam talkshow Perempuan Berdaya, Indonesia Maju, yang diselenggarakan Kementerian Keuangan RI bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) dan Pusat Investasi Pemerintah (PIP), di Murakabi Craft, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (22/12).
Selain talkshow, kegiatan ini juga diramaikan dengan adanya booth expo layanan UMKM Kemenkeu Satu, yang menyiapkan berbagai narasumber bagi para pengunjung untuk menanyakan kiat-kiat usaha, potensi negara tujuan. Dalam kegiatan ini LPEI menghadirkan para narasumber yang berasal dari Kantor Cabang LPEI Surakarta dan 10 pelaku usaha mayoritas di sektor furnitur yang berasal dari debitur UMKM berorientasi ekspor dan mitra binaan Jasa Konsultasi.
Dalam sambutannya secara daring, Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati menerangkan, negara hadir melalui berbagai instrumen keuangan maupun berbagai institusi yang diberikan penugasan khusus oleh pemerintah. Seperti LPEI untuk mendorong ekspor nasional, serta coaching program kepada para pelaku UMKM, terutama para perempuan pelaku usaha. Ia berharap dengan coaching program yang diberikan kepada perempuan eksportir ini akan makin memperluas basis daya saing Indonesia dalam rangka menembus pasar global, baik melalui akses pembiayaan maupun pendampingan oleh LPEI.
Kepala Kantor Cabang LPEI Surakarta, Irwan Prasetiyawan menjelaskan bahwa LPEI sebagai Special Mission Vehicle Kementerian Keuangan RI memiliki mandat yang diatur dalam Undang-undang No 2 Tahun 2009. Salah satunya untuk mendorong ekspor nasional melalui Pembiayaan, Penjaminan, Asuransi, dan Jasa Konsultasi untuk mendukung para pelaku usaha berorientasi ekspor, tidak terkecuali para pelaku UMKM.
“Penguatan kompetensi dan kapasitas para pelaku UMKM terus dilakukan dan tingkatkan. Baik dari sisi pembiayaan antara lain fasilitas Penugasan Khusus Ekspor (PKE) UKM maupun pendampingan dengan program unggulan, seperti Coaching Program for New Exporter (CPNE) dan Desa Devisa,” ujarnya.
Tercatat sejak tahun 2019 hingga November 2022, LPEI telah berhasil meningkatkan jumlah eksportir baru secara signifikan yang mencapai 468% dari 38 eksportir menjadi 216 eksportir. Selain itu hingga November 2022 total pembiayaan PKE UKM mencapai lebih dari Rp3,69 triliun yang terdiri dari 133 debitur di sektor furnitur, makanan olahan, produk tekstil jadi, peralatan elektronik, produk karet lainnya, bahan kayu, dan lain-lain.
Kegiatan ini dinilai dapat memberikan dampak positif bagi para pelaku UMKM, yang ingin meningkatkan kapasitas dan kompetensinya. Mereka dapat mengikuti sesi talkshow dan business forum, serta berkonsultasi dengan LPEI melalui booth Coaching Clinic. Diharapkan melalui upaya itu semakin memberikan wawasan serta akses informasi yang berguna untuk mengembangkan bisnis kedepan. (BC5)

















