balibercerita.com –
Penanganan kemacetan di kawasan wisata Uluwatu, khususnya setelah pertunjukan Tari Kecak, menjadi salah satu fokus Desa Adat Pecatu, Kecamatan Kuta Selatan. Upaya pengaturan lalu lintas yang melibatkan pecalang, hansip, dan prajuru desa adat mulai menunjukkan hasil setelah berjalan selama empat hari.
Bendesa Adat Pecatu, I Made Sutama mengatakan, penanganan kemacetan tersebut menjadi bagian dari upaya bersama dalam menjawab persoalan yang dihadapi kawasan pariwisata internasional itu. Pengaturan lalu lintas dilakukan menyusul keluhan warga terhadap kepadatan kendaraan di sekitar kawasan Uluwatu.
“Setelah kami melaksanakan kegiatan ini, sekarang sudah lancar. Akhir Oktober ini akan kami evaluasi. Kemungkinan awal November personel akan kami kurangi karena sudah berjalan,” ujar Sutama pada Minggu (25/10).
Dalam kegiatan tersebut, Desa Adat Pecatu menerjunkan empat pecalang, empat hansip, dan dua prajuru untuk membantu mengatur arus kendaraan. Evaluasi akan dilakukan pada akhir Oktober guna melihat efektivitas pengaturan sekaligus menentukan kebutuhan personel selanjutnya.
Penanganan tidak menutup kemungkinan diperluas ke kawasan wisata lain di wilayah Pecatu, seperti Pantai Suluban, Padang-padang, dan Bingin. Terlebih, menjelang periode kunjungan wisatawan atau high season, kebutuhan personel akan kembali dipertimbangkan sesuai kondisi di lapangan.
Penguatan koordinasi tersebut menjadi salah satu perhatian di tengah pengukuhan tiga unsur kelembagaan Desa Adat Pecatu melalui upacara Pajaya-jayaan miwah Pamikukuh di Pura Desa Pecatu, bertepatan dengan Purnama Kalima pada Minggu (25/10) pagi. Ketiga unsur tersebut yakni Prajuru Sabha Desa, Kerta Desa, dan Paiketan Krama Istri (Pakis) Desa Adat Pecatu.
Sutama menegaskan, pengukuhan bukan sekadar pengesahan kepengurusan, melainkan bagian dari penguatan tugas ngayah dalam menjalankan program desa adat. Menurutnya, persatuan prajuru dan krama menjadi modal penting untuk menangani berbagai persoalan, termasuk yang muncul seiring meningkatnya aktivitas pariwisata.
“Yang kami kedepankan adalah persatuan. Dengan persatuan ini, apapun program Desa Adat Pecatu untuk kesejahteraan desa adat bisa kita laksanakan,” katanya.
Dalam susunan kelembagaan tersebut, Sabha Desa Adat Pecatu dipimpin Nyoman Sujendra, Pakis dipimpin Ni Made Dartini, sedangkan Ketua Kerta Desa dijabat Sutama secara ex officio. Seluruh unsur akan bersinergi dalam mendukung pelaksanaan program dan tugas desa adat.
Ke depan, pihaknya juga berencana melakukan roadshow ke masing-masing banjar dinas untuk menyerap aspirasi masyarakat. Masukan tersebut akan menjadi bahan penyusunan program kerja 2027, sekaligus membuka ruang keterlibatan krama yang lebih luas dalam kegiatan desa adat.
Sutama berharap kebersamaan tetap terjaga sehingga pelaksanaan program dapat berjalan tanpa perpecahan di tengah masyarakat. “Harapan kami, warga Desa Adat Pecatu bersatu, tidak ada blok-blokan. Kalau sudah bersatu, kita bisa melakukan upaya-upaya untuk kebaikan Desa Adat Pecatu,” pungkasnya. (BC5)

















