balibercerita.com –
Kontribusi akademisi tidak selalu berhenti di ruang kuliah maupun laboratorium. Dari pengembangan kesehatan tradisional hingga penguatan sastra dan publikasi tentang Bali, dua Guru Besar Universitas Udayana (Unud) menunjukkan bagaimana karya akademik dapat memberi dampak lebih luas bagi masyarakat.
Dua sosok tersebut yakni Prof. Dr. rer. nat. Drs. I Made Agus Gelgel Wirasuta, Apt., M.Si. dan Prof. Dr. I Nyoman Darma Putra, M.Litt. Karya dan dedikasi keduanya mendapat pengakuan dari Pemerintah Provinsi Bali dalam rangkaian puncak Hari Jadi ke-68 Provinsi Bali, Jumat (14/8).
Prof. Gelgel selama ini mengembangkan Usada Barak, sebuah inovasi di bidang kesehatan tradisional Bali. Berangkat dari pengetahuan pengobatan herbal yang diwariskan, inovasi tersebut terus dikembangkan hingga masuk pada tahap penelitian berbasis nanoemulsi.
Dalam pengembangannya, Prof. Gelgel berkolaborasi dengan mahasiswa Program Doktor Biomedis Fakultas Kedokteran Unud. Kolaborasi tersebut telah menghasilkan lima artikel ilmiah yang terindeks Scopus.
Pengembangan Usada Barak juga mulai diarahkan menuju hilirisasi. Bersama industri herbal, inovasi tersebut dipersiapkan untuk menghasilkan produk yang terdaftar BPOM, dengan rencana nama produk baru Kinasih. “Entah dari mana nama itu muncul. Akhirnya saya tahu dari tetua Pura Tuluk Biu, ampura ngojah tanpa canang, salah satu putra beliau bernama Ki Barak,” ungkap Prof. Gelgel.
Atas kiprahnya tersebut, Prof. Gelgel menerima Penghargaan Inovasi Bidang Kesehatan Tradisional Bali. Penghargaan diserahkan Sekretaris Daerah Provinsi Bali, Dewa Made Indra di Gedung Wiswa Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali.
Di bidang kebudayaan, jejak panjang Prof. I Nyoman Darma Putra terlihat dari konsistensinya menjaga sekaligus mendorong perkembangan sastra Bali modern dan kajian tentang Bali. Selama lebih dari 25 tahun, ia terlibat sebagai juri Hadiah Sastra Rancage untuk menilai karya sastra Bali modern. Peran tersebut tidak sekadar menjadi aktivitas penjurian, tetapi juga diikuti dengan penulisan ulasan yang dipublikasikan di media massa dan kemudian dibukukan.
Ia melihat perkembangan sastra Bali modern yang perlahan bergerak dari kondisi yang dulu relatif terbatas menuju ruang yang semakin terbuka bagi generasi muda. Jika sebelumnya penghargaan sastra lebih banyak diraih penulis senior, kini penulis muda mulai bermunculan dan mendapatkan pengakuan. Perubahan tersebut menjadi salah satu gambaran bagaimana sastra Bali modern terus tumbuh.
Kontribusi lainnya diwujudkan melalui Jurnal Kajian Bali yang didirikan pada 2011. Jurnal yang dipimpin Prof. Darma Putra tersebut berkembang menjadi wadah akademik bagi peneliti dari berbagai negara untuk mempublikasikan hasil penelitian mengenai Bali.
Jurnal Kajian Bali bahkan berhasil menembus indeksasi Scopus Q1 dan akreditasi Sinta 1. Capaian tersebut menjadikan kajian mengenai Bali memiliki ruang yang semakin luas dalam percakapan akademik internasional.
Melalui dua karya tersebut, Prof. Darma Putra kemudian menjadi salah satu dari 20 penerima Anugerah Dharma Kusuma 2026 kategori ilmuwan. Penghargaan tersebut diserahkan langsung Gubernur Bali Wayan Koster di Gedung Ksirarnawa, Art Centre Denpasar.
Bagi Universitas Udayana, capaian kedua guru besar tersebut menjadi gambaran bahwa kontribusi perguruan tinggi dapat hadir dalam berbagai bentuk. Riset dapat berkembang menjadi inovasi yang menyentuh kebutuhan masyarakat, sementara kajian akademik dapat menjadi bagian dari upaya menjaga dan memperkenalkan kebudayaan Bali.
Rektor Universitas Udayana, Prof. Ir. I Ketut Sudarsana, S.T., Ph.D., menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. “Kami mengucapkan selamat dan sangat bangga atas penghargaan yang diterima oleh dua Guru Besar Unud, Prof. Darma Putra dan Prof. Gelgel, dari Pemerintah Provinsi Bali atas dedikasi di bidangnya masing-masing,” ujarnya.
Menurutnya, capaian tersebut diharapkan menjadi inspirasi bagi sivitas akademika Unud untuk terus menghasilkan karya yang memberikan manfaat lebih luas. “Semoga rekognisi ini dapat menginspirasi civitas akademika Unud untuk terus berkarya dan memberikan dampak nyata untuk kesejahteraan masyarakat, tidak hanya Bali tetapi juga Indonesia bahkan masyarakat dunia,” kata Rektor. (BC5)


















