balibercerita.com –
Setiap tahun, pesta kembang api menjadi detik yang paling ditunggu dalam Bali Countdown di GWK Cultural Park. Namun, megahnya pertunjukan visual itu bukan tanpa proses panjang. Lima kali penyelenggaraan sebelumnya menjadi catatan penting yang membentuk konsep fireworks tahun ini lebih terukur, lebih aman, dan lebih spektakuler.
Direktur Operasional GWK Cultural Park, CH. Rossie Andriani mengungkapkan bahwa evaluasi berulang setiap tahun menjadi dasar perubahan besar dalam manajemen kembang api. “Setelah lima kali pelaksanaan, kami menemukan pola. Karena itu tahun ini kami memilih menempatkannya di tiga posisi utama di Festival Park. Ini hasil evaluasi agar tampilan maksimal, tapi tetap aman dan terkontrol,” jelasnya.
Salah satu evaluasi terbesar terjadi pada 2022, saat fireworks digelar dari area Mandala Loka. Letupan kembang api yang mengarah ke langit malam memang memukau, namun angin yang mengarah ke patung membuat asap menutupi siluet Garuda Wisnu Kencana. Momen tersebut kini menjadi cerita klasik, tetapi bagi penyelenggara menjadi bahan evaluasi serius.
“Kejadian itu membuat kami mempertimbangkan arah angin, ketinggian tembak, dan jarak dari patung. Kami tidak ingin pertunjukan mengganggu ikon GWK,” ujar Rossie.
Evaluasi itu pula yang membuat GWK berpindah lokasi penembakan tahun demi tahun, hingga akhirnya menetap di Festival Park yang dinilai paling ideal dari sisi jarak, angin, dan visibilitas penonton.
Tahun ini, GWK menembakkan 10 ribu kembang api dari tiga titik berbeda. Sistem tiga titik ini dipilih bukan hanya untuk menghindari kepadatan asap, tetapi juga untuk memberikan pengalaman visual yang merata bagi 10 ribu lebih penonton.
Dengan tiga zona tembak, pertunjukan dapat dibentuk dalam format 360 derajat, membuat penonton seolah berada di pusat lingkaran cahaya. Setiap titik memiliki jenis tembakan berbeda, ada yang memproduksi efek kipas, spiral, hingga peony burst setinggi lebih dari 100 meter.
“Festival Park punya kontur yang memungkinkan kami menempatkan titik tembak secara tersebar, tapi tetap simetris. Ini yang membuat pertunjukan tahun ini bisa terlihat dari hampir semua sudut,” kata Rossie.
Selain fireworks, pihaknya terus menghadirkan My Melali dan panggung disabilitas sebagai denyut ekonomi dan inklusi sosial dalam perayaan. UMKM kuliner hingga kriya lokal tampil dengan konsep pasar festival modern. Tahun ini, My Melali dibuka tujuh hari sebelum Tahun Baru untuk memperluas ruang bagi pelaku usaha kecil. GWK memperkirakan lonjakan pengunjung mencapai dua kali lipat dari hari biasa. “Pergerakan ekonomi lokal terasa sekali, dan My Melali menjadi titik yang selalu ramai,” kata Rossie.
Bali Countdown 2025 hadir dengan tema “A Neon New Year’s Eve Party”, mendorong pengunjung mengenakan atribut neon agar suasana lebih imersif. Pemegang tiket VIP mendapatkan area khusus yang memberikan sudut pandang terbaik terhadap skenario tiga titik fireworks. Persiapan line-up juga dilakukan sejak Juni melalui survei online. Nama-nama seperti Whisnu Santika, Maliq & D’Essentials, Navicula, Lolot, dan Lomba Sihir dipilih sebagai kombinasi musik lintas genre yang merepresentasikan keragaman pengunjung.
General Manager Marketing Communication and Event GWK, Andree Prawiradisastra menyampaikan, lokasi peluncuran kembang api tahun ini dirasa menjadi formulasi terbaik. Festival Park dinilai mampu menurunkan risiko asap menumpuk, memperluas angle tembak, dan memaksimalkan estetika visual.
Perayaan tahun ini juga ditandai dengan peluncuran koin GWK produksi Kenca Souvenir, berlogo Barong dan dikemas dengan replika patung GWK serta tumbler. Mulai 2026, koin ini akan dirilis setiap Desember sebagai koleksi resmi.
Harga tiket Bali Countdown 2025 yaitu untuk reguler sebesar Rp175.000 dan VIP senilai Rp275.000. Tiket tersedia sampai 30 Desember. Dengan evaluasi yang matang, strategi tiga titik penembakan, dan konsep visual menyeluruh, Bali Countdown 2025 kembali menegaskan diri sebagai pusat pesta Tahun Baru di Badung, lebih teratur, lebih aman, dan lebih memukau dari sebelumnya. (BC5)














