Mangupura, balibercerita.com –
Penanganan sampah di Kabupaten Badung masih menghadapi tantangan serius. Dari delapan unit insinerator yang dimiliki, tiga diantaranya tidak berfungsi, sementara puluhan tempat pengolahan sampah reduce-reuse-recycle (TPS 3R) belum sepenuhnya mampu mengatasi masalah yang ada. Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Badung pun terus berupaya mengelola sampah agar tidak menumpuk.
Kepala Bidang Kebersihan dan Limbah B3 DLHK Badung, Anak Agung Gede Agung Dalem menjelaskan, delapan insinerator tersebut terpasang di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Mengwitani, Mengwi. Namun, tidak semua alat beroperasi maksimal karena tiga unit sedang dalam perawatan. “Insinerator ini kini baru mampu mengolah sampah yang ada di Mangupura dari 20 jalur,” ujar Gung Dalem, Minggu (10/8).
Ia menambahkan, kapasitas lima insinerator yang aktif masih terbatas. Saat ini, pengolahan difokuskan pada sampah dari pusat pemerintahan dan kawasan perkotaan Mangupura. Langkah ini dipilih karena volume sampah dari wilayah tersebut cukup tinggi dan membutuhkan proses cepat untuk mencegah penumpukan.
Sementara itu, 43 unit TPS 3R yang tersebar di desa dan kelurahan di Kabupaten Badung juga belum mampu menjawab seluruh kebutuhan akan pengelolaan sampah. Setiap TPS 3R rata-rata menangani sampah rumah tangga dari 300 hingga 500 kepala keluarga. Volume yang besar membuat pengelola kerap kewalahan.
“Banyak TPS 3R masih kewalahan menangani sampah rumah tangga. Ini juga yang menjadi alasan mengapa pengelolaan terpusat di TPST Mengwitani tetap menjadi andalan,” jelasnya.
Menurut Gung Dalem, pihaknya terus mencari solusi, mulai dari perawatan unit insinerator hingga peningkatan kapasitas pengelolaan di tingkat desa. Ia berharap, peralatan yang sedang diperbaiki bisa segera kembali beroperasi agar daya olah sampah meningkat.
Dengan jumlah penduduk dan aktivitas pariwisata yang tinggi, Badung menghasilkan volume sampah signifikan setiap hari. Tantangan ini membuat inovasi pengelolaan menjadi kebutuhan mendesak.
Lebih lanjut, ia menekankan bahwa keberhasilan pengolahan sampah tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga partisipasi masyarakat dalam memilah sejak dari rumah.
“Pemilahan sampah baru berjalan di wilayah Mangupura saja, jadi kami siapkan jadwal pemungutan. Misalnya, sampah organik dipungut Senin dan Selasa, sedangkan anorganik Rabu dan Kamis begitu seterusnya. Kalau ada menemukan tumpukan sampah di kawasan ini, bukan berarti kami tidak kerja, namun sampah yang dibuang masyarakat tidak sesuai jadwal,” paparnya. (BC9)



















