Saat Lebaran, Jumlah Masyarakat Tuban berkurang Drastis

0
262
Tuban
Kondisi warung pedagang di Tuban yang tutup saat Lebaran. (BC13)

Mangupura, balibercerita.com – 

Sebagai daerah yang menjadi pintu masuk Bali via udara, sekaligus kawasan pariwisata, Desa Adat Tuban memiliki tingkat heterogenitas tinggi. Berbagai suku dan agama masyarakat membaur berdampingan dan terjalin secara harmonis. Sehingga toleransi tercermin dari setiap kegiatan masyarakat setempat.

Tingginya heterogenitas wilayah, membuat jumlah penduduk di Tuban berkurang draatis saat momentum Lebaran. Sebab, sebagian besar masyarakat Tuban yang beragama Islam mudik ke kampung halamannya. Hal itu membuat masyarakat setempat cukup kesulitan membeli makanan, karena mayoritas yang berkecimpung di dunia usaha kuliner adalah masyarakat Tuban yang beragama Islam.

Baca Juga:   Hasil Ngemis Bisa Beli Iphone, Masih Perlukah Kita Iba ke Gepeng? 

Hal tersebut dialami oleh seorang warga Tuban bernama Agus Diana. Saat Lebaran tiba, kecenderungan masyarakat Tuban yang nonberagama Islam cenderung kesulitan dalam mencari aneka makan maupun cemilan, yang biasanya mereka beli pada hari biasanya. Sebab sebagian besar yang berdagang merupakan masyarakat Tuban yang beragama Islam. “Memang cukup sulit mencari makanan saat musim Lebaran. Sebab mereka pada pulang kampung, baik ke kampung halaman maupun ke kampung halaman istri,” ucapnya.

Baca Juga:   Pemkab Badung Mulai Terapkan Aplikasi Kearsipan 

Karena terbiasa menghadapi keadaan tersebut, maka ia biasanya berbelanja di pasar untuk di masak di rumah. Hal itu secara otomatis sebenarnya bentuk penghematan, namun memang cukup memakan waktu. Jika hal itu tidak sempat dilakukan, maka ia bersama keluarga biasanya pergi ke tempat makan lainnya yang berada di sekitaran Kuta, Jimbaran atau Denpasar. 

Sementara, salah seorang pedagang, Soir, membenarkan bahwa sebagian masyarakat Tuban yang beragama Islam biasanya mudik saat Lebaran. Terkecuali mereka yang sudah lama menetap di Tuban dan tidak memiliki saudara dekat di daerah lain. “Kalau saya tidak mudik pak. Soalnya semua keluarga sudah di sini,” ucapnya.

Baca Juga:   ITDC dan Polda NTB Perkuat Keamanan Mandalika Jelang Pertamina Grand Prix of Indonesia 2025

Secara kecenderungan, warga Muslim yang tidak mudik biasanya pergi ke rumah keluarga di kabupaten lain, atau rekreasi ke sejumlah tempat wisata. Hal itu membuat dagangan mereka cenderung lebih cepat buka dibandingkan pedagang yang mudik. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini