Pura Natar Jemeng memiliki berbagai nama, tergantung tafsir individu masing-masing. Ada yang menamakan Siwa Sidanta, Siwa, Budha, Bujangga Siwa, Bujangga Wisnu, Bujangga Brahma dan ada juga yang lain. Di dalam kompleks pura terdapat 22 palinggih, sementara yang ada peninggalannya ada 12 palinggih. Adapun yang berstana di pura tersebut yang utama adalah Ida Bhatara Lingsir, Linggih Dalem Alas Rangda dan Ratu Bagus.
Piodalan di Pura Natar Jemeng jatuh pada hari Buda Cemeng Merakih atau tiap 6 bulan sekali. Pangempon pura mayoritas dari Desa Adat Pinge dan beberapa ada dari luar. Untuk pamedek, asal mereka berasal dari seluruh Bali, bahkan ada yang non-Hindu. Mereka mempercayai bahwa doa-doa mereka terjawab ketika tangkil ke pura itu.
Sementara, Pangelingsir Pemangku Desa Adat Pinge, A.A. Prapta atau Gung Alit menerangkan, Pura Natar Jemeng diyakini berkaitan erat dengan perlintasan tokoh suci Hindu terdahulu. Dari berbagai sumber diketahui bahwa tokoh suci tersebut sempat berstana di sana. Nama Desa Pinge sendiri diyakini merupakan bentuk pemberian nama dari orang suci tersebut.














