balibercerita.com –
Setelah aktivitas penerbangan kembali bergerak penuh pascapandemi Covid-19, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai kembali menguji kesiapan menghadapi situasi darurat dalam skala penuh. Sebanyak 860 personel lintas instansi dilibatkan dalam Airport Emergency Exercise (AEE) 2026 pada Rabu (23/9).
Latihan yang digelar di kawasan bandara tersebut menjadi latihan skala penuh pertama yang dilaksanakan Bandara I Gusti Ngurah Rai setelah pandemi Covid-19 melandai. Tiga skenario keadaan darurat disimulasikan dalam satu rangkaian latihan, mulai dari kebakaran gedung, ancaman keamanan, hingga kecelakaan pesawat.
General Manager PT Angkasa Pura Indonesia (Persero) atau InJourney Airports Kantor Cabang Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai Bali, Nugroho Jati mengatakan, latihan skala penuh memang wajib dilaksanakan setiap dua tahun sekali oleh bandar udara. Namun, pelaksanaan tahun ini memiliki arti tersendiri karena menjadi latihan pertama pascapandemi. “Ini adalah PKD yang pertama pascapandemi covid melandai,” ujar Nugroho.
Tiga jenis latihan digabungkan dalam satu rangkaian exercise. Sore hari, latihan diawali dengan building fire exercise untuk menguji penanganan kebakaran gedung. Selanjutnya dilakukan airport security exercise yang menguji respons terhadap ancaman keamanan sebagai objek vital. Rangkaian latihan kemudian ditutup pada malam hari dengan aircraft accident exercise atau penanganan kecelakaan pesawat.
Pemilihan malam hari untuk skenario kecelakaan pesawat bukan tanpa alasan. Operasional Bandara I Gusti Ngurah Rai berlangsung selama 24 jam sehingga kesiapan personel juga perlu diuji dalam kondisi operasi malam. “Memang dipilih waktu malam hari untuk menguji kesiapan operasi malam, mengingat operasional Bandar Udara I Gusti Ngurah Rai adalah 24 jam,” katanya.
Dalam latihan tersebut, terdapat tiga titik utama yang menjadi lokasi simulasi. Skenario pertama berlangsung di sebuah hotel yang berada di tengah kawasan keramaian, di antara terminal internasional dan terminal domestik. Dalam simulasi ini, terjadi gempa bumi berkekuatan 5,9 SR dengan titik gempa di sekitar Selat Lombok pada kedalaman 8 kilometer.
Gempa memicu kepanikan pengguna jasa bandara dan berdampak terhadap aktivitas di Hotel Novotel yang berada di dalam area bandara. Saat kepanikan terjadi, seorang pegawai yang sedang memasak makanan berlari meninggalkan dapur. Korsleting kemudian memicu kebakaran.
Petugas hotel berusaha memadamkan api menggunakan APAR. Namun, api semakin membesar dan tidak terkendali. Petugas kemudian menghubungi unit airport rescue & fire fighting (ARFF) untuk melakukan pemadaman sekaligus mengevakuasi korban yang terdampak kepulan asap.
Skenario kedua bergeser ke general aviation terminal (GAT) yang digunakan untuk penerbangan private jet. Di lokasi tersebut disimulasikan adanya ancaman keamanan penerbangan.
Dalam skenario, seorang petugas kebersihan yang telah direkrut kelompok pengganggu keamanan membawa ransel berisi bom rakitan ke area ruang tunggu keberangkatan GAT. Ransel tersebut kemudian diperiksa menggunakan mesin X-ray dan teridentifikasi berisi rangkaian bom.
Petugas keamanan melakukan konfirmasi, namun petugas kebersihan tersebut melarikan diri dan meninggalkan ransel di mesin x-ray. Situasi tersebut kemudian ditangani melalui koordinasi dengan berbagai instansi terkait.
Sementara skenario ketiga menjadi bagian penutup latihan. Lokasinya berada di sisi utara landasan, dengan simulasi kecelakaan pesawat yang mengalami kebakaran.
Pesawat Boeing 777-200ER milik Angkasa Air dengan nomor penerbangan AA239 yang membawa 350 penumpang dan awak disimulasikan mengalami kecelakaan sesaat setelah touchdown. Pesawat kemudian terbakar hebat. Informasi kecelakaan diterima dari petugas ATC di menara AirNav Indonesia.
Personel ARFF kemudian bergerak menuju lokasi untuk melakukan pemadaman sekaligus mengevakuasi penumpang. Dalam simulasi tersebut, dari total 350 penumpang dan awak pesawat, sebanyak 187 orang dinyatakan selamat, 143 orang mengalami luka-luka, sedangkan 20 orang dinyatakan meninggal dunia.
Besarnya skala latihan terlihat dari banyaknya unsur yang dilibatkan. Total 860 personel gabungan ikut dalam AEE 2026. Mereka berasal dari berbagai unsur yang tergabung dalam komunitas bandara, mulai dari TNI-Polri, maskapai penerbangan, ground handling, imigrasi, bea cukai, kantor karantina, Basarnas, rumah sakit, pemadam kebakaran daerah hingga AirNav Indonesia. Keterlibatan banyak unsur tersebut menjadi bagian penting dari latihan. Sebab, ketika kondisi darurat benar-benar terjadi, penanganannya tidak bisa dilakukan oleh satu instansi saja.
Nugroho mengatakan, AEE tidak hanya menguji kemampuan personel di lapangan, tetapi juga memastikan jalur komunikasi, koordinasi dan komando berjalan sesuai prosedur. “Dalam airport emergency exercise ini, fungsi koordinasi, komunikasi, dan komando antarunit dan instansi komunitas bandara diuji,” jelasnya.
Selain kemampuan personel, latihan juga digunakan untuk menguji sejumlah dokumen dan prosedur. Meski ratusan personel dan berbagai skenario dikerahkan, latihan tidak membuat Bandara I Gusti Ngurah Rai berhenti beroperasi. Seluruh aktivitas penerbangan tetap berjalan seperti biasa.
Menurutnya, tidak ada penutupan maupun pengurangan operasional bandara selama pelaksanaan latihan. Pihak bandara juga berharap on-time performance penerbangan tetap terjaga dan tidak terdampak oleh kegiatan tersebut.
Di luar skenario AEE, Nugroho mengatakan pihak bandara juga telah memiliki klasifikasi terhadap sejumlah potensi bencana yang dapat terjadi di Bali. Dari tujuh kategori yang ditetapkan, terdapat beberapa prioritas utama, antara lain aktivitas gunung berapi atau volcano activity, tsunami, serta abu vulkanik akibat aktivitas gunung berapi di sekitar Bali. (BC5)


















