balibercerita.com –
Upaya mengurangi risiko bencana di kawasan pesisir tidak cukup hanya mengandalkan kesiapsiagaan saat bencana terjadi, tetapi juga perlu diperkuat melalui perlindungan lingkungan. Semangat tersebut diwujudkan Pramuka Peduli Kwartir Cabang (Kwarcab) Badung melalui aksi penanaman mangrove di Pulau Pudut, Tanjung Benoa, dalam rangkaian Peringatan Bulan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Provinsi Bali 2026 pada Kamis (8/10).
Kegiatan yang menjadi bagian dari Gerakan Bali Menanam ini melibatkan berbagai unsur sebagai bentuk kolaborasi menjaga kelestarian lingkungan sekaligus membangun ketangguhan kawasan pesisir. Peringatan Bulan PRB Bali tahun ini mengusung tema “Ngariksa Bumi Nusantara dalam Bali Era Baru Hijau, Tangguh, Sejahtera.”
Waka Abdimas, Humas dan Informatika Kwarcab Badung, Gede Wirawan mengatakan, keterlibatan Pramuka dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk pengamalan Dasa Darma Pramuka kedua, yakni cinta alam dan kasih sayang sesama manusia. Nilai tersebut, menurutnya, perlu diterjemahkan melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
“Cinta alam tidak cukup hanya menjadi slogan. Cinta alam harus diwujudkan melalui tindakan nyata. Ketika kita menanam dan menjaga lingkungan, sesungguhnya kita juga sedang menjaga kehidupan dan mengurangi risiko bagi masyarakat,” ujarnya.
Ia menjelaskan, mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus mendukung upaya pengurangan risiko bencana. Karena itu, keterlibatan generasi muda dalam kegiatan pelestarian lingkungan perlu terus diperkuat melalui aktivitas edukatif, partisipatif, dan berkelanjutan.
Menurut Gede Wirawan, momentum Bulan PRB Provinsi Bali 2026 menjadi kesempatan bagi Pramuka untuk memperluas kontribusi dalam membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan dan meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. “Gerakan Bali Menanam merupakan aksi nyata. Pramuka Peduli Kwarcab Badung bersama berbagai unsur berkolaborasi dalam gerakan ini sebagai bagian dari upaya membangun Bali yang hijau dan tangguh terhadap risiko bencana,” katanya.
Penanaman mangrove di Pulau Pudut menjadi pengingat bahwa mitigasi bencana perlu dilakukan sejak dini melalui perlindungan ekosistem dan peningkatan kesadaran masyarakat. Kawasan pesisir memiliki potensi risiko yang perlu diantisipasi, sehingga upaya menjaga lingkungan menjadi bagian penting dalam membangun ketangguhan wilayah.
Untuk itu, Pramuka Peduli Kwarcab Badung mendorong agar aksi penanaman tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Pemeliharaan tanaman, pengawasan, edukasi, serta keterlibatan masyarakat dinilai penting agar manfaat kegiatan dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Gede Wirawan menegaskan, keberhasilan gerakan menanam tidak semata-mata diukur dari jumlah pohon yang ditanam, tetapi juga dari tumbuhnya kesadaran bersama untuk menjaga kelestarian lingkungan. “Yang kita tanam hari ini bukan hanya mangrove, tetapi juga kesadaran. Pohon yang tumbuh akan memberikan manfaat bagi generasi berikutnya. Karena itu, aksi seperti ini harus menjadi gerakan bersama dan dilakukan secara berkelanjutan,” ujarnya. (BC5)
















