Mangupura, balibercerita.com –
Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Prancis yang telah terjalin selama 75 tahun diperingati dengan cara yang artistik dan reflektif. Bertempat di Museum Pasifika, Nusa Dua, pameran seni internasional bertajuk Reflections Across Borders: Artistic Dialogues Between Indonesia and France resmi dibuka sebagai bagian dari perayaan hubungan kedua negara. Pameran ini juga menjadi salah satu agenda utama dalam Pesta Kesenian Bali XLVII.
Lebih dari 40 karya ditampilkan oleh seniman asal Bali dan Prancis, menyoroti jejak panjang pengaruh budaya dan dialog estetik lintas benua. Sejak akhir abad ke-19, Bali dan Indonesia secara luas telah menjadi sumber inspirasi bagi banyak seniman dan intelektual Prancis mulai dari Claude Debussy yang terkesan oleh gamelan di Exposition Universelle 1889, hingga pelukis legendaris seperti Adrien-Jean Le Mayeur dan Walter Spies.
Kurator pameran, Marlowe Bandem menjelaskan bahwa pameran ini bukan hanya sebuah selebrasi hubungan diplomatik, tetapi juga menjadi momen reflektif atas sejarah panjang relasi budaya Indonesia–Prancis, khususnya dalam konteks Bali. “Ini sebuah kesempatan untuk mempertanyakan lagi relasi kebudayaan ini, bagaimana cara kita memandang Bali dari masa kolonial ke masa sekarang. Hal inilah yang kami dorong kepada para seniman,” ujar Bandem.
Lebih lanjut, Bandem menilai bahwa perbedaan cara pandang antara seniman lokal dan internasional justru memperkaya makna karya-karya yang dipamerkan. Menurutnya, pertemuan dua tradisi visual Bali dan Prancis menghasilkan ruang dialog yang kaya, otentik, dan penuh perspektif baru.
Seniman asal Klungkung, I Wayan Sujana Suklu, menjadi salah satu yang menampilkan karyanya. Ia membawa tiga lukisan kecil yang mengeksplorasi gestur tubuh manusia sebagai lanskap mental yang kompleks. “Saya menampilkan tema gestur tubuh manusia dengan makna yang dalam terkait kondisi mental manusia. Kita hidup di global village, bergaul dengan berbagai budaya, dan tanpa disadari itu membentuk kolaborasi mental dan pikiran,” jelas Suklu.
Ia juga berharap pameran ini menjadi simbol awal dari kerja sama kreatif yang lebih konkret ke depannya. “Mudah-mudahan pameran ini menjadi embrio bagi proyek-proyek kolaboratif di masa mendatang,” tambahnya.
Dari sisi seniman Prancis, karya-karya dari Titouan Lamazou, Joël Alessandra, dan Pascal Hierholtz (Paisi) menampilkan kesan dan pengalaman personal mereka selama berada di Bali. Dengan pendekatan yang penuh penghormatan terhadap budaya lokal, mereka mengangkat tema spiritualitas, ritual, dan lanskap alam Bali dalam gaya ekspresif dan kontemporer.
Direktur Museum Pasifika, Laksmi Sugiri menyampaikan bahwa museum ini kini memiliki lebih dari 600 karya dari 25 negara. Museum Pasifika, menurutnya, tidak hanya menjadi ruang pamer, tetapi juga tempat dialog budaya dunia yang terbuka bagi masyarakat luas. “Pameran ini terbuka untuk umum hingga 19 Juli 2025. Tiket masuk sebesar Rp75.000 untuk wisatawan domestik dan Rp100.000 untuk wisatawan asing,” tutupnya. (BC5)














