balibercerita.com –
Suasana di Pura Ulun Danu Batur, Desa Adat Batur, Kintamani, dipadati ribuan umat Hindu seiring berlangsungnya rangkaian utama Pujawali Ngusaba Kadasa tahun Saka 1948. Tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan satu abad peristiwa Rarud Batur, yakni perpindahan besar masyarakat akibat letusan Gunung Batur pada 1926.
Puncak upacara dilaksanakan pada Kamis (2/4), bertepatan dengan Purnama Kadasa. Dalam prosesi tersebut, pratima dan pralingga Ida Bhatara-Bhatari Sakti Batur telah diturunkan (pangodal) untuk kemudian distanakan di Jero Agung (Bale Pangaruman).
Pangemong Pura Ulun Danu Batur, Jero Gede Duhuran Batur menjelaskan bahwa Ida Bhatara akan nyejer selama 11 hari, mulai 1 hingga 12 April 2026. “Kami mengimbau umat se-dharma untuk memanfaatkan waktu nyejer yang cukup panjang ini untuk bersembahyang, guna menghindari penumpukan pamedek pada hari puncak,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan agar masyarakat mengikuti pengaturan lalu lintas serta memperhatikan keterbatasan area parkir di sekitar pura.
Berbeda dari pelaksanaan sebelumnya, Ngusaba Kadasa tahun ini juga dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran sejarah. Ornamen pura hingga perlengkapan upacara ditata ulang dengan mengacu pada gambaran masa lalu, sebagai refleksi atas peristiwa 3 Agustus 1926 ketika letusan Gunung Batur memaksa warga meninggalkan kampung halaman.
Jero Penyarikan Duuran Batur mengungkapkan bahwa upaya penguatan narasi sejarah dilakukan melalui pameran foto perjalanan satu abad Batur yang dipasang dari area jaba sisi hingga jaba tengah. Selain itu, dokumentasi aktivitas Pura Pangideran juga ditampilkan melalui videotron, serta pemasangan figur Baris Batur di batas kesucian desa sebagai simbol semangat perjuangan masyarakat saat masa pengungsian.
“Kami ingin generasi muda tetap literat dengan dinamika kebudayaan Batur. Visual masa lalu ini adalah pengingat bagaimana leluhur kami membangun kembali kehidupan dari titik nol setelah bencana satu abad silam,” jelasnya.
Sementara itu, Ketua Panitia Rarud Batur, Guru Nengah Santika (Jero Balirama) menyampaikan bahwa peringatan utama satu abad Rarud Batur akan digelar pada Agustus 2026. Momen tersebut menyesuaikan catatan sejarah perpindahan masyarakat Batur ke Desa Bayunggede sebelum akhirnya menetap di lokasi saat ini pada 1928. (BC18)














