balibercerita.com –
InJourney Tourism Development Corporation (ITDC) menegaskan komitmennya menjadikan keberlanjutan sebagai pilar utama dalam memperkuat daya saing pariwisata nasional dan internasional. Sejalan dengan tema “InJourney 4 Tahun Bersama Berkarya, Lestarikan Indonesia”, sustainability diposisikan bukan sekadar program pendukung, melainkan kerangka berpikir dan bertindak dalam setiap inisiatif jangka panjang perusahaan.
Komitmen tersebut berangkat dari keyakinan bahwa keberhasilan bisnis jangka panjang hanya dapat dicapai apabila pertumbuhan ekonomi berjalan seiring dengan pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat. Melalui visi “Sustainable Tourism Economy and Creating Impact for Communities”, InJourney membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, tetapi juga memperkuat komunitas lokal serta menjaga kelestarian lingkungan sebagai bagian integral dari strategi bisnis masa depan.
Direktur SDM dan Digital InJourney, Herdy Harman menegaskan bahwa keberlanjutan merupakan long term value driver bagi InJourney, sekaligus fondasi untuk menjadikan pariwisata sebagai investasi lintas generasi. Pendekatan ini menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi, pelestarian lingkungan, dan pemberdayaan sosial, serta membangun pijakan hijau bagi masa depan Indonesia.
“Keberlanjutan dan tanggung jawab dalam berbisnis adalah fondasi utama transformasi pariwisata nasional. Pembangunan tidak cukup hanya pada infrastruktur dan program, tetapi juga harus menyentuh aspek paling esensial, yaitu manusia,” ujar Herdy di Nusa Dua Selasa (20/1) sore.
Sebagai wujud nyata komitmen tersebut, InJourney menjalankan green initiative program di lingkungan InJourney Group untuk menciptakan ekosistem pariwisata yang berkelanjutan. Program ini dirancang agar menghasilkan dampak yang terukur, konsisten, dan berkelanjutan, sejalan dengan agenda transformasi InJourney dalam membangun ekosistem aviasi dan pariwisata yang ramah lingkungan.
Dari sisi aspek lingkungan (environmental) dalam penerapan ESG (Environmental, Social, Governance), InJourney menargetkan penurunan emisi karbon sebesar 4.000 ton CO₂e pada 2026. Target ini menjadi langkah awal transformasi menuju operasional yang lebih hijau dan bertanggung jawab, sekaligus dukungan nyata terhadap target Net Zero Emission yang dicanangkan Pemerintah Indonesia.
Langkah awal yang dilakukan adalah membangun dashboard emisi sebagai sistem pemantauan terintegrasi. “Ini baseline dulu. Kita baru merintis, jadi parameter-parameternya kita kumpulkan agar ke depan bisa ditracking dengan baik. Angka 4.000 ton CO₂e ini adalah baseline awal,” jelas Herdy.
Ia menambahkan, potensi pengurangan emisi InJourney sebenarnya jauh lebih besar. Dari konversi energi berbasis gas seperti LNG saja, potensi pengurangan emisi bisa mencapai sekitar 16.000 ton CO₂e. Namun, InJourney memilih memulai dari target realistis sebagai bentuk keseriusan, bukan sekadar formalitas. “Semua harus bisa diukur. Kalau tidak bisa diukur, tidak bisa dikelola dengan baik,” tegasnya.
Dashboard emisi tersebut dirancang hingga ke titik-titik operasional kawasan, sehingga progres penurunan emisi dapat dimonitor secara real time. Ke depan, indikator keberlanjutan ini akan masuk dalam Key Performance Indicator (KPI), dimulai dari pengukuran tingkat kematangan (maturity level), sebelum berkembang ke parameter ESG yang lebih komprehensif.
Kawasan The Nusa Dua diproyeksikan menjadi pilot project penerapan keberlanjutan ITDC. Selama ini, berbagai inisiatif ramah lingkungan telah berjalan, namun belum terukur secara sistematis. “Ternyata potensinya luar biasa. Ini yang ingin kita sampaikan ke dunia, bahwa kita serius bicara sustainability,” kata Herdy.
Sebagai kawasan pariwisata pertama yang dikembangkan ITDC sejak lebih dari lima dekade lalu, The Nusa Dua diharapkan menjadi role model yang dapat direplikasi ke kawasan lain seperti The Mandalika dan The Golo Mori, hingga kawasan-kawasan baru yang akan dikembangkan InJourney. Pendekatan ini sejalan dengan visi InJourney sebagai destination developer yang mengoptimalkan satu kawasan, lalu memperluas pengembangan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru.
Isu keberlanjutan juga dinilai krusial dalam menarik investor asing. Berdasarkan berbagai survei, sekitar 73 persen investor global menjadikan aspek sustainability dan skor ESG sebagai pertimbangan utama dalam menilai perusahaan. Dashboard ESG menjadi salah satu indikator pertama yang dilihat investor untuk menilai keseriusan perusahaan dalam menjalankan prinsip keberlanjutan.
“Perusahaan dengan tata kelola dan manajemen risiko yang baik akan dipersepsikan sebagai perusahaan yang sehat. Karena itu, kami membangun fondasi kuat mulai dari pengukuran emisi, aspek sosial, hingga tata kelola,” pungkas Herdy.
Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka menegaskan bahwa penerapan inisiatif hijau di kawasan merupakan fondasi operasional untuk menjaga kualitas destinasi dalam jangka panjang. “Bagi ITDC, keberlanjutan bukan sekadar agenda, tetapi fondasi operasional kawasan untuk memastikan The Nusa Dua tetap menjadi destinasi premium yang resilien dan berkelanjutan bagi generasi mendatang,” ujarnya.
Melalui langkah ini, InJourney berharap pengurangan emisi karbon tidak hanya menjadi komitmen internal, tetapi juga menjadi pilot project nasional yang menunjukkan bahwa pengembangan pariwisata berkelas dunia dapat berjalan seiring dengan prinsip keberlanjutan. (BC5)

















