
balibercerita.com
Cuaca ekstrem berupa angin barat kencang, hujan lebat, dan gelombang tinggi mulai dirasakan masyarakat Tabanan, terutama di wilayah pesisir dan kawasan terbuka. Kondisi ini seiring masuknya Sasih Kaulu dalam penanggalan Bali, yang sejak lama dikenal sebagai masa peralihan alam menjelang Tahun Baru Saka.
Bagi masyarakat adat di Tabanan, Sasih Kaulu bukan sekadar pergantian sasih, tetapi periode yang identik dengan meningkatnya intensitas cuaca ekstrem. Fenomena seperti pepohonan tumbang, laut bergelora, hingga perubahan suhu dipahami sebagai isyarat alam agar manusia lebih waspada dan mawas diri.
Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dalam beraktivitas, khususnya yang berisiko terdampak cuaca ekstrem. “Sasih Kaulu mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap tanda-tanda alam. Masyarakat agar berhati-hati, terutama saat beraktivitas di laut, sektor pertanian, dan kegiatan lain yang rawan,” ujar Sanjaya.
Ia menegaskan, fenomena alam yang terjadi harus disikapi dengan kebijaksanaan serta kesadaran bersama untuk menjaga keseimbangan hidup. “Nilai Tri Hita Karana mengajarkan pentingnya harmoni antara manusia dan alam. Ini menjadi pengingat agar kita tidak abai, melainkan terus menjaga keselarasan tersebut,” tegasnya.
Dalam tradisi Hindu Bali, Sasih Kaulu merupakan fase persiapan sebelum memasuki Sasih Kasanga yang identik dengan rangkaian Bhuta Yadnya dan Tawur Kesanga menjelang Hari Raya Nyepi. Alam dipandang tengah mengalami proses pembersihan sebelum umat memasuki masa hening, refleksi, dan introspeksi diri saat Nyepi.
Bupati Sanjaya juga mengajak masyarakat menjadikan Sasih Kaulu sebagai momentum refleksi menjelang pergantian Tahun Saka. “Menjelang Nyepi, mari persiapkan diri secara lahir dan batin. Tidak hanya lewat ritual adat, tetapi juga dengan memperkuat perilaku hidup yang bijaksana dan bertanggung jawab terhadap lingkungan,” katanya.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, kearifan lokal dalam memaknai Sasih Kaulu dinilai semakin relevan. Nilai-nilai yang diwariskan secara turun-temurun menjadi pengingat bahwa alam selalu memberi tanda, dan manusia dituntut untuk peka membaca serta meresponsnya demi menjaga keseimbangan kehidupan. (BC13)















