Lestarikan Budaya, Subak Jadi Tema Lomba Cipta Game

0
16
Subak
Penyerahan penghargaan kepada para juara lomba. (ist)

Denpasar, balibercerita.com – 

Subak sebagai sistem pengairan di Bali sudah mendapat pengakuan sebagai situs warisan dunia yang telah diakui UNESCO. Namun, bukan berarti keberadaan subak bisa tak lepas dari beragam persoalan dan ancaman. 

Degradasi alam yang berpotensi melemahkan harmonisasi antara masyarakat dan lingkungan terjadi di sejumlah subak. Degradasi alam terjadi akibat konversi lahan, alih profesi, ekonomi yang lemah, dan kurangnya ketertarikan dari generasi muda untuk melanjutkan keberadaan subak.

Sebagai upaya untuk menggaungkan keberadaan subak kepada generasi muda, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) membuat kompetisi bidang teknologi. Melalui Balai Pelestarian Kebudayaan XV, Kemendikbudristek mengadakan Lomba Cipta Game Edukasi Budaya 2023 untuk umum di seluruh Indonesia. 

Lomba mengambil tema “Subak Adventure: Explorasi Subak Bali”. Lomba yang sudah berlangsung sejak awal Juli 2023 ini telah mendapatkan para pemenang yang diumumkan pada malam puncak kegiatan pada 29 Agustus. 

Baca Juga:   The Changcuters Tampil Atraktif dan Komunikatif di Peninsula 

Menurut Kapokja Pencatatan dan Pendokumentasian Balai Pelestarian Kebudayaan XV Kemendikbudristek, I Gusti Agung Gede Artanegara, lomba ini digelar sebagai langkah yang sangat tepat untuk menarik minat generasi muda dalam mempelajari kearifan lokal Bali. Dalam game ini, dapat mengeksplorasi keindahan subak Bali dan cagar budaya di sekitarnya. Melalui game ini, para peserta dapat mempelajari sejarah, kearifan lokal, dan nilai-nilai budaya yang terkandung dalam subak secara lebih interaktif dan menyenangkan.

Artanegara berharap dari kegiatan ini lahir sebuah wadah di industri kreatif khususnya game edukasi yang bisa menjadi rumah bagi mereka untuk berkolaborasi. “Industri kreatif kebanyakan berdiri sendiri berbeda dengan tradisi. Kita inginnya ada wadah industri kreatif yang di manage bersama,” ujar Artanegara.

Baca Juga:   Event Lari Perekat Hubungan Keluarga, Pokemon Run 2024 Digelar di Bali 

Berkaitan dengan lomba ini, ia menyebutkan kalau antusias peserta cukup tinggi. Sejak registrasi lomba dibuka mulai 2 Juli 2023 dan ditutup 28 Juli 2023, tercatat ada sebanyak 39 tim pengembang atau developer mendaftar. “Setelah kita buka pendaftaran, lalu terjaring 39 peserta, dan sebagian besar, 90 persennya dari Bali. Lalu dipilihlah 10 terbaik dan kita umumkan,” katanya. 

Artanegara menambahkan, karya dari 10 finalis ini sebelumnya telah dinilai mulai dari tema, visual, dan aspek lain sebagainya oleh tim juri dari Balai Pelestarian Kebudayaan XV bekerja sama dengan Pandora Entertainment. Semua finalis akan diajak berkolaborasi untuk ikut mensosialisasikan dan mengedukasi terkait keberadaan subak di Bali.

Lebih lanjut dikatakan, dari 10 finalis ini, sebanyak delapan tim berasal dari Bali dan dua tim dari DI Yogyakarta. “Dari sepuluh itu semuanya bagus sebenarnya, tetapi tetap ada yang terbaik. Usia para peserta beragam, paling kecil tim dari SMP hingga usia sekitar 35 tahun, tapi tidak semuanya memiliki latar belakang IT,” bebernya.

Baca Juga:   Sekda Adi Arnawa Dukung Kejurda Kroya Grasstrack dan Motocross Abiansemal 2022

Sementara itu, Tim Kreatif Lomba Cipta Game Edukasi Budaya 2023, Putu Dian Ujiana menambahkan bahwa pihaknya berharap kerja sama seperti ini berkelanjutan. Putu Dian yang juga sang kreator karakter komik Beluluk ini mengatakan, kegiatan seperti ini dapat menjadi jembatan untuk memperluas gagasan, ide-ide baru yang dapat dikolaborasikan atau dikerjasamakan.

“Kualitas game dari peserta maupun 10 finalis semuanya bagus. Bahkan, salah satu peserta di usia masih SMP semangat untuk menciptakan game,” ucapnya. (BC)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini