Kehidupan Nelayan Kuta: Dulu Memancing Ikan, Kini Menjaring Turis

0
333
Kuta
Aktivitas nelayan di Pantai Kuta. (ist)

Mangupura, balibercerita.com –
Saat mentari pagi mulai menembus cakrawala Pantai Kuta, deretan perahu nelayan tampak berbaris rapi di tepi pantai. Namun hari-hari ini, bukan jaring ikan yang mereka siapkan, melainkan papan selancar dan tamu asing yang bersiap menantang ombak besar.

Di balik kemudi salah satu perahu, I Wayan Setiyasa, lelaki paruh baya dengan kulit legam terbakar matahari, tersenyum menyambut dua peselancar asal Australia. “Sekarang bukan musim ikan, tapi laut masih bisa memberi rezeki,” ujarnya.

Musim angin kencang yang datang setiap pertengahan tahun membuat laut selatan Bali tak bersahabat bagi pencari ikan. Ombak tinggi dan hujan tiba-tiba menjadi tantangan yang tak bisa dilawan. Tapi bagi nelayan Kuta, terutama mereka yang tergabung dalam Kelompok Nelayan Samudra Jaya, ini bukan akhir cerita, melainkan awal dari cara baru bertahan. “Saat orang datang ke Bali untuk surfing, kami jadi pengantar mereka ke spot ombak,” kata Wayan.

Baca Juga:   Mau Kemping Anda Berkesan, Ayo Coba Kampung Kopi Camp Batungsel

Dengan perahu yang dulu digunakan untuk menangkap ikan, kini mereka membawa wisatawan hingga ke perairan dekat Bandara Ngurah Rai, bahkan sampai ke Uluwatu, mengejar ombak terbaik. Tarifnya berkisar Rp70.000 hingga Rp100.000 per orang. Bukan jumlah besar, tapi cukup untuk menghidupi keluarga. Lebih penting lagi, mereka bisa tetap melaut, meski tak membawa pulang ikan.

Baca Juga:   Vistara Jadi Satu-satunya Penerbangan Langsung India-Bali

Wayan tidak merasa beralih profesi. Baginya, identitas sebagai nelayan tetap melekat, hanya cara kerjanya yang menyesuaikan zaman dan cuaca. “Kami tidak banting setir. Kami tetap nelayan. Hanya sekarang, kami juga menjaga pariwisata laut Bali tetap hidup,” ungkapnya.

Baca Juga:   Atma Wedana di Tiga Lokasi di Karangasem, Giri Prasta Beri Bantuan Pribadi Rp150 Juta

Kelompok yang dipimpinnya kini beranggotakan 154 nelayan aktif. Hampir semuanya kini mengandalkan kegiatan pariwisata seperti ini di luar musim ikan. Mereka bukan sekadar pengantar tamu, tapi juga penjaga laut, pemandu budaya, dan wajah ramah dari Bali yang tak pernah kehilangan akal dalam menghadapi badai.

Sambil melihat ke cakrawala, Wayan menambahkan bahwa laut selalu ada jalannya. Kadang ikan, kadang ombak. “Yang penting, kami tetap menyatu dengan laut,” sebutnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini