Beranda Ekonomi Festival Cerutu Buka Peluang Bali Kembangkan Tembakau dan Ekspor

Festival Cerutu Buka Peluang Bali Kembangkan Tembakau dan Ekspor

0
Cerutu
AWK saat meninjau pembuatan cerutu secara manual di ICF 2026. (BC5)

balibercerita.com –
Bali dinilai memiliki peluang mengembangkan industri cerutu sebagai salah satu alternatif ekonomi di luar sektor pariwisata. Potensi tersebut terlihat dari mulai tumbuhnya produk cerutu lokal yang mampu bersaing dengan produk impor, sekaligus terbukanya pasar wisatawan mancanegara.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pembina Bali Promotion Board, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna (AWK), saat menghadiri Indonesia Cigar Festival (ICF) 2026 di Atrium Bali Collection, Nusa Dua, Jumat (2/10). AWK yang anggota DPD RI ini mengatakan, pasar Bali memiliki potensi besar untuk pengembangan produk cerutu karena tingginya jumlah wisatawan yang datang setiap tahun. Menurutnya, karakter wisatawan yang beragam dapat menjadi pasar potensial bagi produk cerutu Indonesia.

“Kita tahu bahwa tahun lalu Bali menerima 16 juta turis, tujuh juta turis asing dan kurang lebih sembilan juta turis domestik. Ini pangsa pasar yang sangat besar, terutama turis-turis yang memang selama ini memiliki kultur di dalam kultur cigars,” ujarnya.

Baca Juga:   Bangga Pakai Produk Lokal, Sociolla Rayakan HUT RI Lewat Kampanye "100% Cantik Indonesia"

Selama ini, pasar Indonesia banyak diisi cerutu impor. Namun, keberadaan ICF menunjukkan produk dalam negeri tidak kalah dan memiliki peluang untuk diperkenalkan lebih luas.
Ia mendorong agar produk tembakau dan cerutu Indonesia dikemas secara baik sehingga mampu meningkatkan daya saing, termasuk untuk menembus pasar ekspor.

“Daripada kita impor dari Kuba, impor dari Amerika Utara atau Selatan, lebih baik kita memanfaatkan tembakau dan produk Indonesia. Tetapi harus dikemas dengan baik,” katanya.

Menurutnya, Bali juga memiliki sejarah panjang dalam budaya cerutu. Ia menyebut cerutu telah menjadi bagian dari pergaulan masyarakat Bali sejak masa kerajaan hingga masa Hindia Belanda. “Di Bali ini cigar itu dari zaman raja-raja dulu adalah simbol pergaulan sebenarnya. Jadi ketika zaman Belanda, Hindia Belanda datang, leluhur kami sudah biasa,” ungkapnya.

Di sisi lain, ia menyoroti tantangan dari sisi harga akibat tingginya beban cukai. Ia berharap pemerintah dapat menciptakan kebijakan yang tetap menjaga penerimaan negara, namun memberikan ruang lebih besar bagi industri legal untuk berkembang dan bersaing dengan produk ilegal.

Baca Juga:   Pemerintah Pusat Siapkan Bali Sebagai Pusat Finansial Internasional Indonesia, Koster; Regulasi Masih Disusun

Menurutnya, penguatan industri legal juga dapat membuka peluang ekspor apabila produk lokal mampu memenuhi standar dan memiliki daya saing harga. “Lebih baik make it legal dan harga dipermudah, dan kita bisa ekspor,” ujarnya.

Ia juga melihat mulai munculnya tren baru dalam gaya hidup masyarakat yang dapat menjadi ruang bagi berkembangnya industri cerutu dan produk pendukungnya. Ia menilai festival seperti ICF tidak hanya menjadi ajang promosi produk, tetapi juga mempertemukan pelaku UMKM dengan pasar dan jaringan internasional.

Ia pun mengapresiasi penyelenggaraan ICF yang melibatkan pelaku usaha lokal. Menurutnya, kegiatan serupa perlu diperluas ke berbagai destinasi pariwisata di Indonesia. “Kalau bisa seluruh Indonesia membuat, terutama di destinasi pariwisata ada kegiatan seperti ini. Kita support,” katanya.

Baca Juga:   Pertalite Digenjot hingga 117 Persen, Pertamina Prioritaskan SPBU di Denpasar-Badung

Peluang tersebut semakin terbuka dengan hadirnya delegasi dan peserta dari sejumlah negara. AWK menyebut, terdapat keterlibatan dari negara seperti Timor Leste, Rusia, China, dan India dalam rangkaian kegiatan. Ia berharap Bali tidak hanya menjadi pasar bagi produk dari luar, tetapi juga mulai mengambil posisi sebagai daerah yang menghasilkan dan mengekspor produk.

“Saya happy dengan angka 22 negara. Tapi sekarang masalahnya pemain-pemain Bali agak kurang. Kita membuka kesempatan, kenapa enggak jadi eksportir? Kenapa juga mungkin Bali ke depan selain pariwisata ada alternatif, tembakau dan lain sebagainya,” ujarnya.

Menurutnya, momentum ICF dapat menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan produk lokal Bali ke pasar yang lebih luas sekaligus mendorong pelaku usaha daerah melihat peluang ekspor sebagai bagian dari pengembangan ekonomi Bali ke depan. (BC5)