balibercerita.com –
Mengembangkan bisnis properti tidak cukup hanya dengan melihat peluang pasar. Pengusaha juga dituntut memiliki kemampuan menyusun perencanaan proyek, menghitung anggaran, membangun strategi pemasaran, hingga mengakses sumber pembiayaan. Kompetensi inilah yang menjadi fokus Badan Pengurus Daerah Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (BPD HIPMI) Bali melalui HIPMI Real Estate Development Program 2026.
Memasuki hari kedua, Sabtu (7/11), program yang diselenggarakan Badan Otonom Infrastruktur & Property BPD HIPMI Bali tersebut berlangsung di Madawa Bali, Lingkungan Kampial. Kegiatan ini mempertemukan pengusaha muda dengan praktisi industri, asosiasi profesi, dan lembaga perbankan untuk memperkuat pemahaman mengenai ekosistem bisnis properti.
Mengusung semangat innovation, networking, and growth, program ini dirancang sebagai ruang pembelajaran komprehensif, mulai dari perencanaan proyek, penyusunan rencana anggaran biaya (RAB), pemasaran, pengelolaan penjualan, hingga strategi mendapatkan dukungan investasi dan pembiayaan perbankan.
Ketua Panitia HIPMI Real Estate Development Program 2026, Adv. Surya Dharma Wibawa menyampaikan bahwa program tersebut menjadi upaya mempertemukan kebutuhan peningkatan kapasitas pengusaha muda dengan pengalaman langsung para pelaku industri. Melalui pembekalan dari praktisi, peserta diharapkan tidak hanya memahami peluang bisnis properti, tetapi juga memiliki gambaran mengenai tahapan membangun dan mengembangkan proyek secara profesional, mulai dari perencanaan hingga realisasi.
“Melalui program ini, BPD HIPMI Bali menegaskan pentingnya peningkatan kompetensi dan kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat ekosistem kewirausahaan bidang infrastruktur dan properti. Sinergi antara pengusaha muda, praktisi, asosiasi, dan lembaga perbankan diharapkan membuka akses lebih luas terhadap jejaring profesional, informasi pasar, peluang kemitraan, serta sumber pembiayaan,” ujarnya.
Pada sesi pertama, peserta mendapatkan materi bertajuk “Kisah Sukses Developer Muda Bali” yang dibawakan Ajik Agung Setiawan dari REI DPD Provinsi Bali. Materi ini mengulas pengalaman membangun usaha properti, termasuk peluang dan tantangan developer dalam menghadapi perubahan kebutuhan pasar.
Pembahasan berlanjut pada aspek teknis melalui sesi “Strategi Perencanaan Proyek (Gambar & RAB)” bersama I Made Dwi Indrawan, Owner PT Taman Loka. Peserta diperkenalkan pada pentingnya gambar proyek dan penyusunan anggaran yang terukur sebagai dasar menentukan kelayakan, efisiensi, serta ketepatan pelaksanaan pembangunan.
Setelah istirahat siang, materi beralih pada strategi komersial melalui sesi “Strategi Pemasaran Properti & Strategi Delivery Produk” yang menghadirkan Michael Hikma Gunawan, Ketua DPD Asosiasi Real Estate Broker Indonesia (AREBI) Bali. Dalam sesi tersebut, peserta mendapatkan pemahaman mengenai karakteristik konsumen, positioning produk, pendekatan pemasaran yang sesuai dengan kondisi pasar, serta strategi memastikan produk properti dapat menjangkau segmen konsumen yang tepat.
Aspek pendanaan turut menjadi perhatian dalam sesi keempat bertajuk “Strategy Pitching Investor & Perbankan”. Materi pertama disampaikan Wayan Suananta Wijaya (Tino), Founder & Owner WS Property Bali, yang mengulas strategi mempresentasikan proyek kepada calon investor dan lembaga perbankan. Peserta dibekali pemahaman mengenai penyusunan konsep bisnis, penyampaian kelayakan proyek, pembangunan kredibilitas, hingga kemampuan mengomunikasikan potensi investasi agar memperoleh dukungan pendanaan.
Selanjutnya, Nie Nyoman Aniek Irayani, Regional Transaction & Consumer Head Bank BNI memberikan materi “Pembiayaan Proyek & Edukasi Keuangan”. Pembahasan mencakup perspektif perbankan mengenai pengelolaan keuangan, instrumen layanan keuangan, serta mekanisme pembiayaan yang dapat mendukung pengembangan bisnis properti.
Setiap sesi dilengkapi diskusi dan tanya jawab sehingga peserta dapat menggali pengalaman narasumber sekaligus membahas berbagai persoalan yang dihadapi dalam praktik bisnis. Menurut Surya Darma, di tengah dinamika industri properti, pengusaha muda dituntut tidak hanya mampu membaca peluang, tetapi juga memiliki kapasitas, integritas, dan kemampuan beradaptasi dalam mengembangkan proyek secara terencana dan berkelanjutan. HIPMI Real Estate Development Program 2026 diharapkan menjadi salah satu langkah untuk melahirkan generasi developer muda yang profesional sekaligus mampu memberikan kontribusi bagi perkembangan industri properti dan perekonomian Bali. (BC5)

















