Mangupura, balibercerita.com —
Setelah Desa Ungasan, kini giliran Desa Kutuh, Kecamatan Kuta Selatan, yang meluncurkan inovasi pengelolaan sampah berbasis teknologi. Melalui Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Teba Kauh, Desa Kutuh mulai memproduksi paving block dari residu hasil pembakaran sampah menggunakan mesin motah.
Perbekel Desa Kutuh, Wayan Mudana mengatakan, inovasi ini merupakan bagian dari komitmen desa dalam menyelesaikan persoalan sampah secara mandiri dan berkelanjutan. Abu sisa pembakaran sampah diolah dengan cara diayak hingga menjadi butiran halus, lalu dicampur dengan pasir dan semen dengan perbandingan 11:5:3, sebelum dicetak menjadi paving block.
“Kami tidak ingin residu sampah tetap menjadi masalah baru. Maka kami proses menjadi paving block untuk kebutuhan desa. Ini bagian dari upaya kami menuju nol sampah ke TPA Suwung,” jelas Mudana.
Paving block yang dihasilkan berukuran 20×20 cm dengan ketebalan 8 cm. Mesin pencetak yang digunakan berasal dari program corporate social responsibility (CSR) produsen mesin motah. Dalam tahap awal, paving akan digunakan untuk infrastruktur desa seperti jalan setapak dan gang lingkungan. Target produksi mencapai 50–100 paving block per hari.
Menurut Mudana, selama delapan bulan terakhir, residu pembakaran sempat ditimbun karena belum ada solusi pengelolaannya. Kini, sekitar 50 persen dari abu hasil pembakaran bisa dimanfaatkan. Satu ton sampah diperkirakan menghasilkan 10 persen abu.
“Dengan alat ini, kami optimis mulai awal Agustus bisa menangani 100 persen sampah lokal. Tanggal 17 Agustus nanti kami jadikan tonggak sejarah Desa Kutuh merdeka dari sampah,” tegasnya.
Mudana juga menyampaikan rencana untuk menambah unit Mesin Motah guna mengimbangi volume sampah yang ditangani TPST, yakni 7–11 ton per hari.
Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta, memberikan apresiasi atas inovasi Desa Kutuh. Ia menilai langkah ini menjadi bukti bahwa perubahan besar bisa dimulai dari desa. “Abu yang dulunya hanya limbah kini jadi bahan bangunan yang berguna. Inilah wajah baru desa, berani berinovasi, peduli lingkungan, dan melibatkan pemuda,” ujarnya.
Arta menekankan bahwa program ini merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah desa, komunitas lingkungan, dan pemuda. Selain mengurangi volume sampah, inovasi ini juga membuka peluang ekonomi baru berbasis daur ulang. “Inovasi semacam ini patut jadi role model bagi desa-desa lain di Badung dan Bali secara umum,” pungkasnya. (BC5)

















