balibercerita.com –
Dampak krisis bahan bakar minyak (BBM) di Bali dirasakan hampir semua lapisan masyarakat. Di Kedonganan, Kecamatan Kuta, kondisi tersebut tidak hanya menghambat mobilitas warga, tetapi juga membuat nelayan terpaksa menghentikan sementara aktivitas melaut sejak beberapa hari terakhir.
Ketua KUB Kelompok Nelayan Wanasegara Kertih Kedonganan, Nyoman Sunarta mengatakan, sebagian nelayan tidak bisa melaut karena kesulitan memperoleh Pertalite untuk mengoperasikan mesin perahu. Situasi ini turut memengaruhi pasokan ikan yang bergantung pada hasil tangkapan nelayan. “Kami nelayan tidak ada yang melaut karena susah mencari BBM,” ujarnya.
Menurut Sunarta, kesulitan mendapatkan BBM mulai dirasakan sejak Rabu (14/10). Selama belum bisa kembali melaut, nelayan memilih tinggal di rumah sembari memperbaiki peralatan tangkap, seperti jaring dan perlengkapan lainnya.
Dampak keterbatasan BBM juga dirasakan dalam aktivitas sehari-hari. Mobilitas keluarga nelayan, termasuk mengantar anak ke sekolah, ikut terkendala.
Sementara itu, kegiatan pendukung di kawasan pesisir timur Kedonganan yang berkaitan dengan ekowisata mangrove turut mengalami hambatan. Salah satunya layanan penyewaan tenda yang mereka fasilitasi.
Keterbatasan BBM untuk transportasi pengangkut perlengkapan membuat layanan tersebut tidak bisa berjalan optimal. “Penyewaan tenda sekarang hanya bisa satu tenda karena transportasinya tidak ada BBM untuk mengangkut,” jelasnya.
Sunarta berharap pasokan BBM segera pulih agar nelayan dapat kembali melaut dan aktivitas masyarakat pesisir berangsur normal. Menurutnya, BBM menjadi kebutuhan utama karena sebagian besar nelayan mengandalkan mesin untuk menggerakkan perahu. Tanpa mesin, perjalanan melaut akan sulit dilakukan hanya dengan mengandalkan tenaga dayung.
“Harapan kami, kalau bisa secepatnya BBM pulih kembali. Terus terang, kami juga ketergantungan dengan BBM,” harapnya. (BC5)


















