Mangupura, balibercerita.com –
Bali tidak hanya dikenal sebagai surga wisata dunia, tetapi kini dipanggil untuk menjadi pionir nasional dalam gerakan pelestarian lingkungan. Dalam peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada Kamis (5/6), di Kuta, Menteri Lingkungan Hidup dan Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, S.Hut., M.P., memberikan pesan kuat yang berpusat pada peran strategis Bali dalam membangun masa depan pariwisata yang berkelanjutan.
“Bali bukan sekadar destinasi, Bali adalah etalase Indonesia di mata dunia. Lautnya, pantainya, budayanya, semua menjadi simbol yang tak terpisahkan dari citra Indonesia,” ujar Menteri Hanif.
Bali memiliki posisi istimewa. Sebagai etalase pariwisata Indonesia, Bali bukan hanya menghadirkan keindahan alam dan budaya, tetapi juga mencerminkan wajah keberlanjutan Indonesia mata dunia. Ia menyampaikan pesan khusus kepada Bali dan daerah wisata lainnya, jaga lautmu, bersihkan pantaimu, lindungi warisanmu. Ia menegaskan bahwa Bali harus menjadi contoh nyata bagi daerah wisata lain dalam pengurangan plastik sekali pakai. Bukan karena kewajiban, tapi karena kesadaran dan cinta terhadap tanah leluhur.
Menteri Hanif menyerukan agar Bali mengambil langkah konkret dan progresif dalam melindungi lingkungannya: membersihkan pantai, melestarikan laut, dan memelopori gerakan edukasi publik di ruang-ruang vital seperti sekolah, pasar, tempat ibadah, hingga kantor pemerintahan. Pesan tersebut adalah panggilan nyata bagi Bali untuk memimpin gerakan nasional menuju zero waste to landfill dan menjadi pusat inovasi pengelolaan sampah dan daur ulang di sektor pariwisata. Pariwisata yang berkelanjutan bukan pilihan, tapi keharusan. Bali harus menjadi pusat teladan.
Secara global, Indonesia juga akan membawa semangat ini ke dalam forum internasional INC-5.2 di Jenewa, Agustus mendatang. Ini adalah perundingan akhir konvensi hukum internasional untuk menghentikan polusi plastik. Indonesia hadir sebagai pemimpin solusi, bukan sekadar korban pencemaran global.
Menteri Hanif juga mengajak seluruh kepala daerah untuk segera menetapkan regulasi daerah yang melarang penggunaan plastik sekali pakai, membangun infrastruktur pengelolaan sampah, menerapkan zero waste to landfill sebagai visi bersama dan mengedukasi masyarakat untuk hidup tanpa sampah.
“Dan untuk anak muda gen Z dan Alpha, kalian adalah agen perubahan. Jadilah pelopor perubahan. Tolak sedotan plastik, bawa botol minum sendiri, pilih produk lokal berkelanjutan, dan sebarkan semangat keberlanjutan lewat media sosial,” pesannya.
Menteri Hanif menggarisbawahi pentingnya kesadaran kolektif. Pentingnya kesadaran dan bertindak bersama. Setiap langkah kecil seperti memilah sampah, menolak plastik sekali pakai, memilih produk ramah lingkungan, akan menciptakan gelombang perubahan besar. “Bumi tidak membutuhkan kita. Kitalah yang membutuhkan. Mari kita wariskan alam yang bersih, bukan krisis yang ditinggalkan,” pungkaanya. (BC5)

















