Anomali Kemarau Basah di Bali, Curah Hujan September 2025 Lebih Tinggi dari Tahun Lalu

0
275
Curah Hujan
Situasi di Jalan Tol Bali Mandara saat hujan lebat beberapa waktu lalu. (ist)

balibercerita.com –
Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar mencatat curah hujan sepanjang September 2025 di Bali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2024. Data dari Stasiun Meteorologi Ngurah Rai dan Stasiun Geofisika Sanglah menunjukkan, kondisi curah hujan berada pada kategori di atas normal.

Prakirawan Cuaca BBMKG Wilayah III Denpasar, Luh Nyoman Didik Tri Utami menjelaskan bahwa hujan lebat yang belakangan terjadi dipicu faktor atmosfer. “September dasarian I tahun 2025 sebagian besar lebih tinggi dari rata-rata klimatologisnya atau atas normal. Hujan yang terjadi disebabkan adanya belokan angin dan konvergensi di wilayah Bali yang mendukung pertumbuhan awan hujan,” ujarnya.

Baca Juga:   Menpan RB Sebut MPP Badung Sesuai Arahan Presiden

Selain itu, suhu permukaan laut di perairan Bali yang terpantau hangat turut menambah massa uap air, sementara massa udara basah terkonsentrasi dari lapisan permukaan hingga 3.000 meter. Kondisi ini memperbesar potensi terjadinya hujan.

Brian Eko Permadi selaku Prakirawan BBMKG Wilayah III Badung menambahkan bahwa Bali saat ini mengalami anomali cuaca berupa kemarau basah. Curah hujan dengan intensitas ringan hingga sedang masih rutin turun selama periode kemarau. “Musim kemarau tahun 2025 ini cenderung mundur dibandingkan tahun sebelumnya dan memiliki sifat lebih basah. Di beberapa daerah termasuk Bali, curah hujan masih berada di atas normal hingga Juli 2025,” jelas Brian.

Baca Juga:   BMKG Peringatkan Potensi Banjir Rob di Sejumlah Pesisir Bali

Berdasarkan data Stasiun Klimatologi Jembrana, curah hujan Agustus 2025 tercatat lebih tinggi dibandingkan Agustus 2024. Hal ini menegaskan bahwa meski secara kalender masih kemarau, secara klimatologis Bali tetap menerima curah hujan signifikan. Fenomena ini dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk anomali suhu muka laut, kelembapan udara tinggi, serta dinamika atmosfer global seperti La Nina lemah yang masih bertahan di Pasifik.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati menjelaskan bahwa anomali hujan di atas normal sudah berlangsung sejak Mei 2025 dan diprediksi berlanjut hingga Oktober 2025. “Melemahnya Monsun Australia membuat suhu muka laut di selatan Indonesia tetap hangat. Kondisi ini berkontribusi terhadap anomali curah hujan di sebagian besar wilayah Indonesia,” ungkapnya.

Baca Juga:   Ada Rumah Sakit Baru di Kuta

Faktor lain yang mempercepat pembentukan awan hujan adalah gelombang Kelvin, pelambatan angin, serta konvergensi atmosfer lokal. Adapun ENSO (Samudra Pasifik) dan IOD (Samudra Hindia) diprediksi tetap netral hingga akhir 2025, sehingga kemarau basah masih akan berlangsung di berbagai wilayah.

BBMKG mengimbau masyarakat Bali untuk tetap waspada terhadap perubahan cuaca cepat selama masa pancaroba. Potensi hujan lebat disertai angin kencang dan petir perlu diantisipasi, khususnya bagi aktivitas di luar ruangan maupun sektor pertanian dan kelautan. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini