
balibercerita.com –
Penggunaan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di sektor pendidikan Indonesia terus mencatatkan pertumbuhan signifikan. Merujuk data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), sebanyak 43,98 persen pemanfaatan AI di tanah air kini diarahkan untuk mendukung dunia edukasi.
Kendati demikian, pekerjaan rumah utama sektor pendidikan nasional bukan lagi ketersediaan perangkat. Upaya membekali siswa dan pendidik dengan kemampuan berpikir kritis, kreatif, serta literasi digital yang bertanggung jawab kini menjadi poin paling strategis.
Menjawab tantangan tersebut, Polish Investment and Trade Agency (PAIH) berkolaborasi dengan Koding Next menggelar POLAND FESTIVAL 2026: EdTech & AI Roadshow di Labyrinth Area, Nuanu Creative City, Bali, Kamis (5/11). Ajang ini memperkenalkan ragam inovasi teknologi pendidikan mutakhir asal Polandia yang memadukan AI, robotika, dan pembelajaran interaktif bagi generasi muda.
Kepala PAIH, Cezary Filipek menegaskan bahwa kolaborasi ini dirancang untuk memperkuat ekosistem pendidikan digital di Indonesia melalui pertukaran pengetahuan lintas negara. “Kami percaya bahwa teknologi dapat memainkan peran penting dalam membentuk masa depan pendidikan, sekaligus mendorong kolaborasi untuk mendukung keterampilan generasi muda Indonesia,” ujar Cezary.
Dalam pameran ini, pengunjung diajak menjajal langsung pendekatan learning by doing yang menggabungkan elemen fisik dan digital secara aplikatif seperti FunFloor yang merupakan lantai interaktif berbasis sensor gerak dan proyektor yang melatih koordinasi fisik serta respons anak melalui permainan edukatif, Photon atau robot edukasi yang mengenalkan logika pemrograman dasar dan computational thinking sejak dini, hingga WhalesBot yang sebuah perangkat robotika berbasis STEM untuk membantu siswa memahami sains dan cara kerja AI.
Ada pula Discovery Lab, sebuah ruang eksperimen sains mandiri guna mengasah kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan The Pod Media Factory, sebuah fasilitas produksi konten profesional di Bali untuk memperluas spektrum literasi digital. Selain itu, instalasi Become the Character turut memikat perhatian pengunjung berkat teknologi pengenalan visual real-time berbasis AI yang mentransformasikan gerakan tubuh menjadi karakter digital secara instan.
Di balik masifnya adopsi perangkat digital, para pelaku industri menyoroti urgensi penguatan sumber daya manusia agar anak-anak tidak terjebak sebagai konsumen teknologi semata. Entrepreneur asal Polandia sekaligus pemilik Discover Labs, Jacek Kaczynski menilai, Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pemain utama pengembangan AI di Asia Tenggara.
“Tantangan utama Indonesia adalah memperkuat ekosistem digital, berinvestasi dalam pengembangan SDM, serta mendorong inovasi agar AI dapat memberikan nilai nyata bagi masyarakat,” kata Jacek.
Senada dengan hal tersebut, CEO & Founder Koding Next, Mateusz Rybinski menekankan pentingnya menanamkan pola pikir sebagai pencipta (creator mindset) sejak bangku sekolah. “Tujuan kami adalah membekali para siswa dengan pengetahuan dan kepercayaan diri agar mereka mampu menjadi pencipta teknologi dan inovator masa depan, bukan sekadar pengguna,” tegas Mateusz.
Melalui sinergi antara inovasi internasional dan kebutuhan lokal ini, festival tersebut diharapkan mampu menjadi katalisator bagi dunia pendidikan di Bali dan Indonesia untuk melahirkan generasi yang adaptif, kritis, serta siap menghadapi lanskap teknologi masa depan. (BC18)
















