Kuliner Bali Tak Lagi Sekadar Soal Makan, PHRI Dorong Gastronomi Jadi Daya Tarik Wisata

0
13
Kuliner
Ilustrasi kuliner Bali. (ist)

balibercerita.com –
Kuliner kini tidak lagi sekadar urusan makan dan minum. Pengalaman menikmati makanan, mengenal bahan baku hingga terlibat langsung dalam proses memasak menjadi bagian penting dari perjalanan wisatawan. Potensi tersebut dinilai menjadi peluang besar bagi Bali untuk mengembangkan wisata gastronomi sekaligus memperkuat daya saing pariwisata.

Ketua PHRI Bali, Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati mengatakan, Bali maupun Indonesia memiliki kekayaan kuliner yang sangat besar. Potensi tersebut, menurutnya, perlu dikembangkan tidak hanya dari sisi produk makanan, tetapi juga pelayanan dan pengalaman yang diberikan kepada wisatawan.

“Sekarang kuliner bukan hanya sekadar urusan makan dan minum, tetapi lebih kepada pengalaman wisatawan. Bali, khususnya Indonesia, memiliki potensi yang sangat besar. Dengan potensi tersebut tentu bisa memberikan dampak yang besar bagi pariwisata,” ujarnya, Senin (31/8).

Baca Juga:   Danau Yeh Malet, Hidden Gem di Bali Timur yang Mulai Menampakkan Pesonanya

Pria yang akrab disapa Cok Ace menjelaskan, kekayaan kuliner lokal Bali belum sepenuhnya tampil sebagai produk yang dikenal luas di pasar internasional. Bahkan, hingga kini sate lilit menjadi salah satu kuliner Bali yang paling dikenal wisatawan. “Terus terang, kami masih iri dengan China, Italia dan negara-negara lain yang memiliki makanan yang sudah sangat dikenal. Bali sebenarnya kaya sekali dengan produk makanan lokal, tetapi yang muncul secara luas baru sate lilit. Yang lainnya masih banyak yang belum terangkat,” katanya.

Oleh karena itu, berbagai kegiatan yang mempertemukan pelaku usaha kuliner dinilai penting untuk mendorong produk lokal agar memiliki kualitas dan daya saing lebih baik. Produk kuliner Bali diharapkan tidak hanya diterima oleh masyarakat lokal, tetapi juga mampu menembus pasar nasional hingga internasional.

Baca Juga:   ITDC Meriahkan HUT ke-80 RI dengan Promo dan Kegiatan Budaya di Tiga Destinasi Pariwisata Unggulan

Di sisi lain, perubahan tren wisatawan juga membuka peluang baru. Wisatawan yang menginap di vila, misalnya, kini tidak selalu memilih pengalaman makan di restoran. Sebagian justru tertarik membeli bahan makanan sendiri di pasar lokal dan mencoba memasak makanan khas daerah yang mereka kunjungi.

“Saya melihat tren wisatawan sekarang berbeda. Mereka ingin merasakan pengalaman baru. Bahkan ketika tinggal di vila, mereka membeli bahan baku sendiri di pasar dan mencoba memasak sendiri. Ini menjadi bagian dari pengalaman mereka selama berwisata,” jelasnya.

Tren tersebut menunjukkan bahwa gastronomi dapat berkembang menjadi salah satu kekuatan baru pariwisata Bali. Wisatawan tidak hanya datang untuk melihat destinasi, tetapi juga ingin mengenal budaya melalui makanan, bahan baku dan proses pengolahannya. “Kita bisa melihat ke depan tempat-tempat seperti Ubud yang sudah dikenal sebagai kawasan wisata gastronomi mempunyai nilai jual yang luar biasa. Potensi dan tren pariwisata kita di Bali ini bisa dijadikan peluang utama,” pungkasnya.

Baca Juga:   Tiga Desa Wisata di Bali Raih ADWI 2021

Pengembangan gastronomi juga dinilai dapat memberikan dampak berantai bagi berbagai sektor, mulai dari petani, nelayan, pasar tradisional, pelaku UMKM, restoran, hotel hingga industri kreatif. Dengan demikian, kuliner tidak hanya menjadi pelengkap pariwisata, tetapi dapat menjadi ekosistem ekonomi yang memperkuat industri hospitality Bali. (BC5)