Tak Lagi Pakai Buku, Tabungan Sampah Warga Ungasan Dipantau Digital

0
1
Sampah Ungasan
Petugas Bank Sampah Desa Ungasan melakukan pencatatan sampah yang dikumpulkan warga. (ist)

balibercerita.com –
Pengelolaan sampah di Desa Ungasan, Kecamatan Kuta Selatan, mulai beradaptasi dengan sistem digital. Bank Sampah Desa Ungasan yang mulai beroperasi sejak awal Agustus 2026 menerapkan pencatatan berbasis web melalui platform PISAH.ID, sehingga warga dapat memantau langsung setoran sampah dan saldo tabungannya.

Program yang dikelola BUMDesa Mega Kencana Ungasan bersama Pemerintah Desa Ungasan ini tidak lagi mengandalkan pencatatan menggunakan buku. Setiap nasabah memiliki akun sendiri yang memuat data sampah yang telah disetorkan beserta nilai ekonominya.

Direktur BUMDesa Mega Kencana Ungasan, I Made Nuada Arsana mengatakan, penerapan sistem digital tersebut menjadi salah satu upaya memberikan kemudahan sekaligus transparansi kepada masyarakat. Nasabah dapat melihat jumlah setoran dan saldo yang diperoleh dari sampah secara real-time melalui akun masing-masing. “Mulai Agustus ini, kita sudah membuka Bank Sampah Desa Ungasan yang dikelola oleh BUMDesa Mega Kencana Ungasan,” ujar Nuada.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Pimpin Pengawasan dan Penegakan Hukum Pengelolaan Sampah di Legian

Menurutnya, digitalisasi pencatatan juga membuat pengelolaan tabungan sampah lebih tertata. Setiap sampah yang disetorkan oleh masyarakat akan dicatat dalam sistem sesuai akun nasabah, sehingga masyarakat dapat mengetahui perkembangan tabungannya tanpa harus bergantung pada catatan manual.

Hingga saat ini, jumlah anggota Bank Sampah Desa Ungasan telah mencapai sekitar 2.000 orang. Para anggota merupakan masyarakat yang menyetorkan sampah terpilah yang masih memiliki nilai jual.

Dalam pelaksanaannya, BUMDesa Mega Kencana Ungasan menggandeng PKK dan kader bank sampah di masing-masing banjar. Masyarakat mengumpulkan sampah yang telah dipilah di banjar masing-masing. Setelah terkumpul, sampah kemudian diangkut oleh pihak BUMDesa untuk dibawa ke TPST.

Sistem bank sampah ini berbeda dengan layanan jasa pengangkutan sampah. Masyarakat yang menggunakan jasa pengangkutan tetap dikenakan biaya. Sementara melalui bank sampah, warga menyetorkan sampah yang sudah dipilah dan memiliki nilai ekonomi untuk dijual.

Baca Juga:   Profesi yang Diprediksi Tetap Dibutuhkan Meski AI Semakin Canggih

Hasil penjualan tersebut kemudian menjadi tabungan atau manfaat ekonomi bagi nasabah. “Dalam bank sampah kan sampah yang sudah dipilah, yang dijual itu. Dijual kepada kita, yang mendapatkan benefit buat masyarakat,” jelasnya.

Dari sisi volume, potensi sampah yang dikumpulkan juga cukup besar. Dalam setiap pengangkutan, sampah yang terkumpul dari satu banjar rata-rata mencapai sekitar 1 ton. “Setiap pengangkutan yang telah berjalan selama ini, setiap banjar itu kurang lebih ada 1 ton sekali pengangkutan,” katanya.

Sampah yang telah terkumpul selanjutnya disalurkan melalui kerja sama dengan pihak ketiga dan jaringan pabrik. Sampah yang memiliki nilai ekonomi, termasuk berbagai jenis plastik, dipisahkan dan dikumpulkan untuk kemudian dijual.

Keberadaan bank sampah tersebut sekaligus menjadi bagian dari sistem pengelolaan sampah di Desa Ungasan yang terhubung dengan aktivitas TPST. Masyarakat berperan memilah sampah dari sumber, sementara BUMDesa membantu proses pengumpulan dan penyaluran sampah bernilai ekonomi.

Baca Juga:   Apresiasi Sorotan Presiden, Lanang Umbara: Sampah Kiriman Bukan Hanya Tanggung Jawab Daerah

Untuk sementara, layanan Bank Sampah masih diperuntukkan bagi seluruh kepala keluarga (KK) di Desa Ungasan. BUMDesa ke depan berencana memperluas layanan tersebut kepada masyarakat di luar Desa Ungasan.

Sejak mulai beroperasi pada awal Agustus, seluruh banjar di Desa Ungasan telah mendapatkan pelayanan dan telah berlangsung satu kali putaran pengangkutan.
Nuada mengatakan, pelaksanaan program sejauh ini belum menghadapi kendala berarti. Tantangan utama masih pada upaya mengedukasi masyarakat agar lebih konsisten melakukan pemilahan sampah sejak dari rumah. “Kendalanya saat ini belum ada yang signifikan. Hanya memang mengedukasi masyarakat ini saja untuk lebih maksimal lagi,” tandasnya. (BC5)