Nusantara Hadirkan Kuliner, Kopi, hingga 1.000 Artefak Budaya

0
12
Nusantara
The Mangrove Café dengan interior dan elemen desain yang terinspirasi dari Indonesia. (ist)

balibercerita.com – 

Tak perlu menempuh perjalanan dari Sumatra hingga Flores untuk mencicipi kekayaan rasa Indonesia. Di Tabanan, sebuah destinasi baru bernama Nusantara mencoba menghadirkan pengalaman menjelajah kepulauan Indonesia dalam satu kawasan.

Berada di Nuanu Creative City, Nusantara tidak dibangun sekadar sebagai tempat makan. Destinasi ini dirancang sebagai perjalanan mengenal Indonesia melalui kuliner, kopi, seni, dan cerita budaya yang dibawa langsung dari berbagai daerah. 

Konsep tersebut terasa sejak memasuki Warung Nine Islands. Di tempat ini, wisatawan dapat menemukan hidangan dari Jawa, Sumatra, Bali, Lombok, Sulawesi, Kalimantan, Sumba, Flores hingga Madura. Yang menarik, pendekatan yang digunakan bukan dengan mengubah makanan daerah agar menyesuaikan selera internasional. Rempah digiling langsung setiap pagi dan teknik memasak khas daerah dipertahankan. Dengan cara itu, Nusantara ingin membawa cita rasa Indonesia apa adanya, sekaligus memperkenalkan makanan yang selama ini lebih banyak dikenal di daerah asalnya.

Baca Juga:   Marcelo Vieira Temui Penggemar di Bali, Adidas Ajak Fans Indonesia Rasakan Dekatnya Sang Legenda Real Madrid

Perjalanan rasa kemudian berlanjut ke Meja 36. Bahan-bahan yang sama diolah menggunakan teknik kuliner kontemporer dalam format fine dining. Namun, modernisasi hanya ditempatkan sebagai cara penyajian, bukan untuk menghilangkan identitas rasa.

Bahan pangan diperoleh langsung dari produsen daerah, nelayan, juru masak, serta pemasok lokal. Proses panjang tersebut menjadi bagian penting dari konsep Nusantara. “Kami datang langsung ke para produsennya. Semuanya,” ujar Pemilik Nusantara, James Ephraim.

Selama berbulan-bulan, James mengaku menjelajahi sembilan pulau, bertemu nelayan, pemasok bahan pangan lokal hingga juru masak yang telah mempertahankan racikan bumbu selama puluhan tahun. “Tolok ukurnya sederhana, jika seorang nenek dari Padang mencicipi rendang kami dan langsung mengenalinya, berarti kami telah melakukan pekerjaan dengan benar,” katanya.

Baca Juga:   The Nusa Dua Kembangkan Destinasi Wisata Medical and Fertility Wellness

Tak berhenti pada makanan, perjalanan kemudian membawa pengunjung menuju The Mangrove Café. Ruang ini menawarkan kopi single-origin dari Sumatra, Jawa, Sulawesi dan Flores, ditemani kreasi jajanan pasar dengan cita rasa pandan, gula aren, klepon hingga dadar gulung.

Sementara itu, The Gallery menghadirkan sisi lain Indonesia melalui pameran Indonesian Vision. Dikurasi oleh Pascal Morabito, pameran ini menampilkan sekitar 1.000 artefak suku asli Indonesia.

Bukan hanya dipajang, setiap karya dilengkapi panduan digital yang membantu pengunjung memahami sejarah, teknik pembuatan serta konteks budaya di baliknya. Sejumlah karya juga dapat dikoleksi, dengan hasil penjualan turut mendukung para seniman.

Sementara itu, CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll menyebut Bali memiliki posisi unik sebagai pintu gerbang untuk menjelajahi Indonesia. “Bali adalah pintu gerbang Indonesia dan kami ingin Nuanu membuka pintu tersebut lebih lebar,” ujar Lev.

Baca Juga:   Usai Galungan, Pengelola Pantai Pandawa Bidik Lonjakan Wisatawan Saat Libur Sekolah

Menurutnya, wisatawan yang telah jatuh cinta dengan budaya Bali dapat diajak mengenal kekayaan daerah lain di Indonesia. “Nusantara merupakan undangan bagi mereka untuk mencintai kekayaan kepulauan Indonesia lainnya: kulinernya, karya seninya, dan keberagaman daerahnya,” katanya.

Ia menegaskan, konsep Nusantara berangkat dari tradisi dengan tujuan menghadirkan penemuan baru. Ke depan, ruang tersebut diharapkan dapat menjadi rumah bagi representasi budaya dari lebih banyak daerah di Indonesia.

Menikmati sekaligus menjaga pengalaman di Nusantara juga memiliki dimensi yang lebih luas. Sebagian pendapatan dialokasikan melalui Nuanu Social Fund (NSF) untuk mendukung berbagai inisiatif di bidang budaya, alam, dan masyarakat Bali. Dengan demikian, sepiring makanan, secangkir kopi, maupun sebuah karya seni tidak hanya menjadi bagian dari pengalaman wisata. (BC5)