balibercerita.com –
Peringatan hari lahir Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Pudja kembali menjadi momentum untuk mengenang sekaligus meneladani nilai perjuangan salah satu tokoh penting asal Bali dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Tokoh kelahiran Buleleng, 19 Mei 1908 itu dikenal sebagai figur yang memiliki semangat belajar tinggi, sederhana, serta berintegritas dalam pengabdiannya kepada bangsa.
Nama I Gusti Ketut Pudja tercatat dalam sejarah sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) yang mewakili wilayah Sunda Kecil, meliputi Bali dan Nusa Tenggara. Ia juga ikut hadir dalam proses penyusunan naskah Proklamasi Kemerdekaan di kediaman Laksamana Tadashi Maeda bersama para tokoh nasional lainnya.
Setelah Indonesia merdeka, Presiden Soekarno menunjuknya sebagai Gubernur Sunda Kecil. Atas jasa dan pengabdiannya, pemerintah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional pada 2011. Sosoknya pun diabadikan dalam uang logam pecahan Rp1.000 yang diterbitkan pada 2016.
Nilai perjuangan tersebut menjadi pembahasan utama dalam seminar bertajuk “Memperingati Hari Lahir Pahlawan Nasional I Gusti Ketut Pudja” yang berlangsung di Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha), Selasa (19/5). Kegiatan ini diinisiasi anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) dapil Bali, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna.
Dalam seminar itu, akademisi sejarah Undiksha, Prof. Dr. I Made Pageh membawakan materi berjudul “Lampah Pudja untuk Generasi Masa Kini.” Ia menekankan bahwa perjalanan hidup I Gusti Ketut Pudja dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda, terutama terkait ketekunan dan integritas. “Pudja belajar dari nol, dari pendidikan privat di rumah hingga mampu meraih gelar hukum tertinggi. Semangat belajar itulah senjata paling kuat yang diwariskan kepada generasi sekarang,” ungkapnya.
Menurutnya, Pudja merupakan sosok birokrat yang bekerja dengan penuh pengabdian tanpa mengejar kekuasaan. Warisan terbesarnya bukan jabatan, tetapi integritas. Ia juga menilai pola kepemimpinan Pudja yang mengedepankan pendekatan persuasif kepada para raja di Bali relevan diterapkan di tengah tantangan kebangsaan saat ini. “Pemimpin sejati itu menyatukan, bukan memecah belah,” tambahnya.
Selain itu, Prof. Pageh menyebut salah satu kontribusi penting Pudja ialah lahirnya frasa “Tuhan Yang Maha Esa” yang mampu menjadi titik temu keberagaman di Indonesia. “Beliau menunjukkan bahwa keberagaman bukan ancaman, melainkan kekuatan untuk persatuan,” jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Buleleng, I Gede Diyana Putra, memaparkan materi bertajuk “Gerakan Menuturkan Kembali Bali Utara secara Lisan.” Ia menyoroti mulai berkurangnya kedekatan generasi muda terhadap sejarah lokal akibat minimnya ruang untuk menuturkan kembali kisah-kisah sejarah.
Berbagai upaya dinilai perlu dilakukan untuk menjaga ingatan kolektif generasi muda terhadap perjuangan para pahlawan, mulai dari pentas penutur sejarah, sejarah keliling sekolah, malam tutur sejarah, napak tilas, podcast dokumentasi sejarah, hingga festival sejarah. “Sejarah tidak boleh berhenti di buku. Ia harus hidup dalam cerita, dalam tutur, dan dalam ingatan generasi muda,” ujarnya.
Seminar tersebut menjadi pengingat bahwa perjuangan I Gusti Ketut Pudja tidak hanya penting untuk dikenang, tetapi juga diwariskan kepada generasi penerus. Nilai integritas, semangat belajar, persatuan, dan pengabdian dinilai tetap relevan sebagai fondasi menjaga keutuhan bangsa di tengah perkembangan zaman. (BC13)


















