Ketua DPRD Badung Hadiri Dresta Lango dan Dharma Shanti XX Desa Adat Bualu, Tegaskan Komitmen Pelestarian Tradisi

0
73
Ketua DPRD Badung
Penyerahan piala kepada pemenang lomba. (ist)

balibercerita.com –
Ketua DPRD Badung, I Gusti Anom Gumanti mendampingi Bupati Badung, I Wayan Adi Arnawa menghadiri Dresta Lango dan Dharma Shanti XX Desa Adat Bualu, Jumat (20/3). Kegiatan yang merupakan bagian dari rangkaian hari raya Nyepi Caka 1948 ini dipusatkan di Catus Pata Desa Adat Bualu, Kecamatan Kuta Selatan.

Mengusung tema “Dahaning Sira Parinama”, perhelatan ini merepresentasikan semangat transformasi masyarakat pesisir Desa Adat Bualu dalam menjaga dan mengembangkan nilai tradisi di tengah modernisasi. Rangkaian kegiatan menjadi ruang ekspresi kreativitas dengan memadukan seni, adat, dan penguatan ekonomi kerakyatan melalui lomba ogoh-ogoh, pameran UMKM, gebogan bunga, hingga fruit carving.

Dalam kesempatan tersebut, Anom Gumanti menegaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya memperkuat pelestarian budaya Bali, tetapi juga mendorong partisipasi aktif generasi muda dalam menjaga warisan leluhur. Pawai ogoh-ogoh di kawasan catus pata menjadi magnet utama yang menarik perhatian masyarakat dan wisatawan, khususnya di kawasan Nusa Dua. Semangat kebersamaan juga tercermin melalui gotong royong lintas krama serta prosesi melasti di Pantai Nusa Dua.

Baca Juga:   Adi Arnawa Buka Pagelaran Gema Raga Muda Kreatif dan Mandiri

Ia menegaskan, kehadirannya bersama pemerintah daerah merupakan bentuk komitmen nyata dalam menjaga keberlangsungan adat, seni, dan budaya Bali sebagai fondasi pembangunan. “Dresta lango dan dharma shanti bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang sakral dan kultural yang merepresentasikan jati diri masyarakat Bali. Tradisi ini menjadi kekuatan utama, tidak hanya sebagai warisan leluhur, tetapi juga daya tarik wisata berbasis budaya,” ujarnya.

Baca Juga:   Pakelem di Pantai Geger, Ungkapan Rasa Syukur Suksesnya KTT G20

Menurutnya, kekuatan pariwisata Badung tidak terlepas dari hidupnya seni dan budaya di tengah masyarakat. Karena itu, pelestarian tradisi harus menjadi prioritas bersama. “Menjaga kearifan lokal berarti juga menjaga keberlanjutan pariwisata. Pembangunan tidak boleh tercerabut dari akar budaya,” tegasnya.

Ia menambahkan, pemerintah daerah senantiasa hadir sebagai mitra strategis desa adat melalui kebijakan, pembinaan, dan dukungan terhadap ruang kreativitas masyarakat. Di tengah arus globalisasi, kolaborasi antara pemerintah, desa adat, dan generasi muda merupakan kunci agar budaya Bali tetap hidup, berkembang, dan adaptif tanpa kehilangan jati diri.

Baca Juga:   Uluwatu Tunjukkan Harmoni Budaya dan Konservasi dalam Perayaan Tumpek Uye

Anom Gumanti juga mengapresiasi keterlibatan generasi muda Desa Adat Bualu yang mampu menghadirkan inovasi dalam balutan tradisi, sehingga kegiatan ini tidak hanya bernilai sakral, tetapi juga berdampak ekonomi serta memperkuat daya tarik pariwisata berbasis budaya. “Sinergi desa adat, generasi muda, dan pemerintah adalah kunci menjaga keseimbangan antara pelestarian budaya dan pariwisata berkelanjutan,” imbuhnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Ny. Rasniathi Adi Arnawa, anggota DPRD Provinsi Bali, I Ketut Tama Tenaya, anggota DPRD Badung, I Made Reta dan I Nyoman Karyana, Camat Kuta Selatan, I Ketut Gede Arta, Lurah Benoa, I Wayan Karang Subawa, Bendesa Adat Bualu, I Made Suarma, serta tokoh masyarakat setempat. (adv)