balibercerita.com –
Perekonomian Bali menunjukkan performa impresif pada akhir 2025. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Bali mencatat, pada triwulan IV 2025 ekonomi Bali tumbuh sebesar 5,86 persen (year on year/yoy), melampaui capaian pertumbuhan ekonomi nasional yang berada di angka 5,39 persen (yoy). Dengan angka tersebut, Bali masuk dalam jajaran provinsi dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Secara kumulatif, sepanjang 2025 ekonomi Bali tumbuh 5,82 persen (yoy), juga lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan nasional yang tercatat 5,11 persen (yoy). Kondisi ini mencerminkan ketahanan ekonomi Bali yang tetap solid di tengah dinamika dan ketidakpastian ekonomi global.
Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga menjadi salah satu penopang utama dengan pertumbuhan 5,85 persen (yoy). Kinerja ini didorong oleh meningkatnya belanja masyarakat pada sektor transportasi, rekreasi dan budaya, serta akomodasi dan hotel, seiring tingginya aktivitas pariwisata. Sementara itu, konsumsi pemerintah melonjak 10,73 persen (yoy), dipicu oleh peningkatan belanja pegawai serta belanja bantuan sosial yang bersumber dari APBN maupun APBD.
Investasi atau Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh positif sebesar 5,47 persen (yoy), terutama berasal dari investasi bangunan yang ditopang oleh peningkatan realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Di sisi lain, ekspor luar negeri meningkat 5,43 persen (yoy), sejalan dengan menguatnya ekspor jasa akibat meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara dan domestik.
Berdasarkan lapangan usaha, seluruh sektor ekonomi Bali mencatatkan pertumbuhan. Sektor akomodasi dan makan minum menjadi yang tertinggi dengan pertumbuhan 8,90 persen (yoy), ditopang oleh meningkatnya jumlah wisatawan. Sektor perdagangan tumbuh 5,97 persen (yoy), tercermin dari meningkatnya aktivitas wisata dan perdagangan bahan baku konstruksi.
Selanjutnya, sektor transportasi dan pergudangan tumbuh 5,53 persen, didorong oleh tingginya mobilitas wisatawan, khususnya melalui Bandara I Gusti Ngurah Rai. Sektor konstruksi juga mencatat pertumbuhan 2,84 persen (yoy), sejalan dengan realisasi investasi yang terus berjalan. Adapun sektor pertanian tumbuh 0,25 persen (yoy), didukung subsektor perkebunan seperti kelapa dan kakao serta subsektor peternakan, antara lain telur ayam, daging ayam, dan daging sapi.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Erwin Soeriadimadja, Jumat (6/2), mengatakan, Bank Indonesia memprakirakan perekonomian Bali akan tetap tumbuh kuat pada triwulan I 2026 seiring dengan optimisme konsumen yang tetap terjaga, realisasi investasi yang terus berlanjut, dan pertumbuhan sektor pariwisata. Pada triwulan I 2026 terdapat momentum HBKN Imlek, Nyepi, dan Ramadan-Idul Fitri yang dapat turut mendorong pertumbuhan ekonomi Bali.
Dari sektor pariwisata, peningkatan jumlah penerbangan internasional, aktivitas MICE, serta penambahan akomodasi pariwisata baru diperkirakan akan terus mendorong kenaikan kunjungan wisatawan. Sementara dari sektor pertanian, kebijakan penurunan Harga Eceran Tertinggi (HET) pupuk subsidi, penggunaan bibit unggul, serta kondisi iklim yang lebih baik berpotensi meningkatkan hasil produksi pertanian. Selain itu, masih kuatnya pembangunan proyek swasta, khususnya yang terkait sektor pariwisata, juga menjadi penopang pertumbuhan ekonomi Bali.
Untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, Bank Indonesia merekomendasikan lima strategi utama Panca Kerthi. Strategi pertama adalah memperkuat sektor unggulan di luar pariwisata sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru melalui penguatan sektor pertanian, pengembangan ekonomi kreatif, serta perluasan investasi berkualitas.
Strategi kedua diarahkan pada percepatan pariwisata berkualitas melalui perluasan dan diversifikasi destinasi wisata yang selaras dengan karakteristik daerah dan budaya lokal. Ketiga, pengendalian inflasi dan penguatan daya beli masyarakat melalui sinergi dalam TPID dan GNPIP, optimalisasi rantai pasok melalui Perumda, perluasan KAD berkualitas, serta penguatan distribusi melalui berbagai gerai inflasi.
Strategi keempat mencakup peningkatan akses pembiayaan yang lebih inklusif, khususnya bagi UMKM dan sektor-sektor prioritas. Sementara strategi kelima berfokus pada percepatan digitalisasi sistem pembayaran melalui perluasan penggunaan QRIS, pengembangan ekosistem digital UMKM, serta peningkatan edukasi keamanan transaksi.
Melalui penguatan sinergi antara pemerintah daerah, pelaku ekonomi, dan seluruh pemangku kepentingan, Bank Indonesia menegaskan komitmennya untuk mendukung inovasi dan kebijakan strategis daerah. Kolaborasi ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Bali yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi, baik di tingkat nasional maupun global. (BC13)
















