Sorotan Presiden Prabowo soal Sampah Jadi Momentum Pembenahan Lingkungan Bali

0
50
Prabowo sampah Bali
I Made Sada. (BC5)

balibercerita.com –
Perhatian Presiden Prabowo Subianto terhadap persoalan sampah di kawasan wisata nasional, khususnya Pantai Kuta, menjadi pengingat penting bahwa tantangan lingkungan di pusat pariwisata Bali masih memerlukan penanganan yang berkelanjutan. Sorotan tersebut dinilai sebagai dorongan positif agar upaya pengelolaan lingkungan semakin diperkuat secara menyeluruh.

Ketua Komisi II DPRD Kabupaten Badung, I Made Sada menilai perhatian presiden patut dimaknai sebagai momentum untuk melakukan evaluasi dan pembenahan secara komprehensif, tidak hanya di tingkat hilir, tetapi juga dari sumber permasalahan.

Menurutnya, persoalan sampah di Pantai Kuta merupakan isu yang telah berlangsung cukup lama dan bersifat musiman, terutama saat angin barat. Oleh karena itu, penanganannya membutuhkan pendekatan terintegrasi yang melibatkan lintas sektor dan lintas wilayah. “Perhatian Presiden ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa pengelolaan sampah di kawasan strategis pariwisata harus ditangani secara serius, terstruktur, dan berkelanjutan,” ujar I Made Sada.

Politisi asal Legian ini menjelaskan, secara geografis Pantai Kuta berada di wilayah hilir yang menerima limpahan sampah kiriman dari berbagai daerah melalui aliran sungai dan arus laut. Kondisi tersebut membuat upaya pembersihan di kawasan pantai perlu dibarengi dengan pengendalian sampah dari hulu. “Upaya pembersihan di pantai tentu penting, namun akan lebih optimal jika disertai pengelolaan sampah dari sumbernya, mulai dari sungai, desa, hingga perubahan perilaku masyarakat,” jelasnya.

Baca Juga:   Jadi Tempat Welcoming Dinner G20, GWK Siapkan Video Mapping Spektakuler

Ia mengapresiasi berbagai langkah yang telah dilakukan Pemerintah Kabupaten Badung, termasuk pembersihan rutin, pengerahan personel, penggunaan alat berat, serta pelibatan TNI, Polri, dan relawan. Ia menilai upaya tersebut merupakan bentuk komitmen nyata pemerintah daerah dalam menjaga kebersihan kawasan wisata.

Namun demikian, besarnya volume sampah musiman membuat hasil kerja di lapangan kerap belum terlihat maksimal. Menurutnya, kondisi tersebut bukan semata persoalan teknis, melainkan tantangan sistemik yang memerlukan penyempurnaan kebijakan.

Sampah kiriman yang menumpuk di Pantai Kuta pada musim tertentu didominasi kayu, ranting, bambu, serta sampah plastik. Selain mengganggu estetika pantai, kondisi ini juga berdampak pada kenyamanan wisatawan dan citra pariwisata Bali.

Baca Juga:   Bappenas Sebut Lansia Dapat Berperan Sebagai Subjek Pembangunan

Sebagai daerah yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pariwisata, Badung, kata Sada, menempatkan isu lingkungan sebagai pondasi utama keberlanjutan pariwisata. Lingkungan yang bersih dan lestari merupakan daya tarik utama Bali di mata dunia. “Pariwisata Bali tidak terlepas dari kualitas lingkungannya. Menjaga kebersihan pantai berarti menjaga wajah Bali sebagai destinasi pariwisata dunia,” ujarnya.

Ia mendorong agar penanganan sampah di kawasan Kuta dan sekitarnya menjadi agenda bersama lintas organisasi perangkat daerah (OPD), dengan melibatkan pelaku pariwisata, desa dinas, desa adat, serta sektor swasta. Dalam konteks Bali, peran desa adat dinilai sangat strategis dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat. Instrumen adat seperti awig-awig dan pararem dapat menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan kepedulian terhadap pengelolaan sampah.

Baca Juga:   Bikin Bangga, Seniman Bali Juarai Festival Internasional Salju dan Es Harbin ke-26

Selain pendekatan sosial dan budaya, Sada juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi dan inovasi. Ia mendorong kolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset untuk menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang sesuai dengan karakter Bali.

Terkait perhatian presiden, ia berharap dukungan pemerintah pusat dapat terus diperkuat, baik melalui kebijakan maupun pendanaan, mengingat Kuta merupakan destinasi wisata nasional dengan dampak ekonomi yang luas. Ia juga mengapresiasi peran aktif masyarakat, komunitas lingkungan, serta aparat keamanan dalam berbagai kegiatan kebersihan pantai. Menurutnya, semangat gotong royong menjadi modal sosial yang sangat berharga. “Ke depan, gotong royong ini perlu terus dilengkapi dengan penguatan sistem agar upaya pengelolaan sampah dapat berjalan lebih efektif dan berkelanjutan,” katanya.

Melalui momentum ini, Sada berharap terbangun komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan untuk memperkuat sinergi dan menyatukan langkah dalam pengelolaan sampah di Bali, khususnya di kawasan pariwisata utama seperti Pantai Kuta. (adv)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini