Mangupura, balibercerita.com –
Sebanyak 12 peraih Kalpataru dari berbagai wilayah di Indonesia akan kembali menerima penghargaan Kalpataru Lestari, sebagai bentuk apresiasi atas komitmen berkelanjutan mereka dalam menjaga kelestarian lingkungan. Penghargaan tersebut akan diserahkan langsung oleh Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Dr. Hanif Faisol Nurofiq, dalam peringatan puncak Hari Lingkungan Hidup Sedunia pada 5 Juni 2025 di Pantai Kuta, Bali.
Dari 12 orang perwakilan penerima Kalpataru di seluruh Indonesia, sebanyak 2 orang merupakan perwakilan dari Bali, yaitu Kelompok Nelayan Prapat Agung Mengening Patasari Kuta Kabupaten Badung menjadi salah satu tokoh penting dalam penyelamatan lingkungan. Penghargaan Kalpataru diperoleh pada tahun 2019 untuk kategori penyelamatan sungai dan mangrove di Kawasan Konservasi Taman Hutan Raya yang dulunya rusak parah, kering, dan dijadikan tempat pembuangan sampah liar. Kawasan ini kini bertransformasi menjadi lingkungan hijau yang asri, hidup kembali secara ekologis, dan layak menjadi destinasi edukatif dan wisata.
Luasan kegiatan Tukad Mati Patasari Kuta yang semula 12 ha di tahun 2012 kini menjadi 25 hektar. Kelompok ini juga berpartisipasi aktif dalam forum 10th World Water Forum 2024 di Bali dan membina 40 kader penyelamatan sungai. Pengembangan urban farming sebagai sarana edukasi (tabulampot, hidroponik, dll) yang meningkatkan pendapatan masyarakat setempat, maupun pembimbilan 25 ribu bibil/tahun termasuk mangrove, buah-buahan dan tanaman langka yang diberikan ke masyarakat atau yang membutuhkan.
Perwakilan lainnya dari Bali adalah Desa Adat Penglipuran, Kabupaten Bangli. Desa ini menerima Kalpataru Penyelamat Lingkungan Tahun 1995 berkat keberhasilannya dalam memelihara dan melestarikan hutan bambu seluas 75 hektar. Mereka secara konsisten melakukan pemilahan 14 jenis sampah dan menerapkan awig-awig antara lain larangan merusak lingkungan dan menjaga kebersihan desa. Kunjungan wisatawan mencapai 6.000-9.000 rang/hari pada musim liburan, berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat secara signifikan. Desa ini juga memperoleh penghargaan salah satu desa terbersih di dunia dari UNESCO pada tahun 2003 dan 2016.
Pada tahun 2017 desa ini meraih penghargaan Indonesia Sustainable Tourism Award (ISTA) pengelolaan pariwisata yang berkelanjutan. Proklim Utama Tahun 2018 dan pada tahun 2023 dianugerahi penghargaan Best Tourism Vllage oleh United Nations World Tourism Organization (UNWTO).
Tokoh-tokoh Kalpataru lainnya yang akan dianugerahi Kalpataru Lestari yakni:
- Mbah Sadiman, asal Kabupaten Wonogiri Jawa Tengah. Ia menanam berbagai jenis tanaman di lereng Gunung Lawu sejak 1996 dan berhasil mengubah lahan gundul menjadi sumber mata air yang melimpah. Mbah Sadiman melakukannya sendirian, tanpa bayaran dan tidak pernah mengharapkan imbalan. Bahkan pernah dianggap gila karena menanam pohon beringin. Beliau mendapatkan Kalpataru Kategori perintis tahun 2016. Ia mendedikasikan hidupnya untuk menghijaukan kembali lereng Gunung Lawu. Awal kegiatan hanya penghijauan 2 bukit yaitu bukit Gendol dan bukit Ngampyangan. Tahun 2024 meluas menjadi 4 bukit (bertambah 8.500 pohon). Ia menanam sekitar 20.000 pohon, terutama pohon beringin yang dikenal mampu mengikat air tanah dan mencegah erosi (1996-2024). Pembibitan dan penanaman dilakukan sendiri di lereng Gunung Lawu (bibit 50 batang/hari).
- Masyarakat Dayak Iban Menua Sungai Utik Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat. Suku Dayak lban Kampung Sungai Utik menjadi salah satu pelindung dan penyelamat hutan hujan tropis seluas 9504 ha. Dengan kearifan adatnya, mereka melindungi hutan dari perambahan dan penebangan liar. Atas upaya tersebut Kelompok Masyarakat Dayak lban Menua Sungai Utik mendapatkan penghargaan kalpataru kategori penyelamat pada tahun 2019. Mereka menjaga dan mengelola wilayah adat (10.087,44 Ha) dan Hutan Adat Sungai Utik (9.480 Ha,) dengan kearifan lokalnya. Pada Tahun 2023 menerima penghargaan Gulbenkian Prize for Humanity ke-4 dari dari Yayasan Calouste Gulbenkian di Lisbon, Portugal.
Tahun 2019 menerima penghargaan Equator Prize dari UNDP [United Nations Development Programme] di New York, Amerika Serikat. Suku ini menjaga beraneka ragam fauna dan flora untuk tumbuh dan berkembang dengan baik, khususnya Burung enggang yang terancam punah. - Kelompok Pencinta Alam Isyo Hill’s Rhepang Muaif Kota Jayapura Papua. Kelompok ini menerima Kalpataru Penyelamat Lingkungan Tahun 2017. Mengelola Kawasan Hutan Rhepang Muaif menjadi lokasi ekowisata birdwatching, mendirikan sekolah alam untuk anak-anak muda, 98.000 hektar hutan adat dikelola sebagai kawasan konservasi. Pertambahan luas kegiatan menjad 5 distrik (Nimbokrang, Nimboran, Namblong, Demta, Kemtuk Gresi) sekitar 40.000 ha. Peningkatan Populasi Burung Cendrawasih di habitatnya karena tidak ada illegal logging Saat ini teramati sekitar 15 ekor. Mereka masuk dalam nominasi 50 besar ADWI (Anugerah Desa Wisata Indonesia) 2024 Kemenparekraf. Peningkatan pendapatan masyarakat yang bekerja dalam kegiatan pengamatan burung, kisaran 2,5-3,5 juta.
- Paris Sembiring asal Medan Sumatera Utara. Pria 65 tahun berdarah Karo ini telah membuktikan bahwa cinta lingkungan tidak membutuhkan gelar tinggi, cukup hati yang tekun dan niat yang tulus. la bukan lulusan perguruan tinggi, bahkan tak sempat menamatkan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Namun, dari tangannya telah lahir lebih dari 30 juta bibit pohon yang menghijaukan Sumatera Utara dan memberi harapan bagi banyak orang. Pria ini mendapatkan kalpataru kategori
30 juta bibit tanaman telah ia buat dan sebagian diantaranya didistribusikan secara cuma-cuma kepada masyarakat, pemerintah Kota Medan dan Binjai, lembaga pendidikan, dan gereja. Penerima Kick Andy Heroes (2011), Satya Lencana Pembangunan (2013), serta menjadi bagian dari Asoka Innovators for The Public. Ia memiliki tiga lokasi utama pembibitan dan konservasi: Sapo Rukun Bersama Tanaman seluas 3 hektar di Deli Serdang, Sapo Rindu Berkat Tuhan di Pancur Batu, dan lokasi pembibitan di Kelurahan Titi Kuning Medan. Memiliki kader sebanyak 500 orang mantan perambah hutan yang kini menjadi petani sukses berkat bimbingannya. - Herman Sasia asal Kabupaten Sigi Sulawesi Tengah, mendapatkan Kalpataru Pengabdi Lingkungan tahun 2014 atas upayanya melestarikan burung Maleo. Maleo merupakan spesies burung endemik Sulawesi yang terancam punah, masuk dalam daftar 25 spesies prioritas perlindungan yang ditetapkan oleh pemerintah. Ia mengembangbiakkan malon selama 12 tahun dan berhasil melepaskan ke alam kurang lebih 700 ekor. Pria ini juga melakukan edukasi terhadap generasi muda (siswa, pelajar, mahasiswa) tekait karakteristik burung maleo sebagai satwa endemik. Pelestarian genetika burung maleo melalui penangkaran telur secara alami. Ia terlibat aktif dalam penelitian terkait spesies burung maleo bersama perguruan tinggi
- Timotius Hindom asal Kabupaten Fakfak Papua Barat. Prianini peramu dan peladang yang secara konsisten selama 20 tahun membangun 50 Ha dengan sistem wanatani dan tumbuhan pala sebagai tanaman utamanya. Ia mendapatkan Penghargaan Kalpataru tahun 2009 sebagai perintis lingkungan. Pengembangan kegiatan wanatani sampai dengan 70 hektar bersama masyarakat. Kegiatan wanatani berdampak terhadap perlindungan ekosistem, konservasi air dan keanekaragaman hayati. Pembibitan setiap tahun sekurang- kurangnya 1.000 bibit pohon untuk ditanam dengan bibit sendiri.
Penghijauan lahan kritis bersama masyarakat seluas 800 hektar. - Hamzah asal Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan. Ia menerima kalpataru tahun 2003 kategori perintis atas upayanya melakukan pengembangan hutan rakyat seluas 100 ha dengan menanam karet, kopi, jati dan durian. Lahan yang direhabilitasi tersebut merupakan lahan bekas penambangan batubara tanpa izin (PETI) sehingga lahan tersebut kembali subur dan tidak erosi serta memberikan dampak ekonomi..Pengembangan rehabilitasi lahan bekas penambangan batubara tanpa izin sehingga lahan tersebut kembali subur dan tidak erosi. Tahun 2004 di Desa Rantau Bujur seluas 50 hektar. Ia melakukan kemitraan dalam penyediaan bibit sebanyak 40.000 bibit untuk reklamasi lahan bekas tambang seluas 78,68 hektar tahun 2023. Mendapatkan penghargaan Wana Lestari kategori Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat tahun 2018. Regenerasi kader lingkungan secara berkelanjutan sejak 2008 sampai saat ini.
- TGH Hasanain Juaini asal Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat. Ia menerima Kalpataru Pembina Lingkungan Tahun 2016. Pemimpin sebuah pondok pesantren dengan kiprah dan sumbangsih dalam melestarikan lingkungan melalui gerakan penghijauan lahan kritis 36 Ha, melakukan pembibitan yang dibagikan ke masyarakat serta mengelola sampah secara mandiri. Ia melakukan Ekodakwah, menanamkan kesadaran lingkungan melalui praktik langsung. Mengelola 1,7 kilometer sungai yang melintasi pesantren, selain menebar benih ikan, juga penerapan awig-awig tidak membuang sampah ke sungai.
Mengintegrasikan pendidikan agama dengan sains, teknologi, dan kewirausahaan. Konsisten sebagai pesantren peduli lingkungan, pemberdayaan perempuan dan toleransi antar umat beragama (Penghargaan Ramon Magsaysay Award 201). - Oday Kodariyah asal Kabupaten Bandung Provinsi Jawa Barat. Mamah Oday, srikandi pegiat lingkungan yang mendedikasikan hidupnya pada pelestarian keanekaragaman hayati khususnya mempertahankan sumber genetik melalui pengenalan dan pelatihan budidaya tanaman obat-obatan sekitar 900 jenis tanaman di atas lahan milik seluas sekitar 4 Ha. Ia menerima kalpataru tahun 2018 kategori perintis lingkungan. Mendirikan Yayasan KTO Sari Alam sebagai Kawasan Konservasi Tanaman Obat dan Hutan Bambu
Kemitraan dengan Yayasan Kehati (pelatihan dan pengenalan tanaman obat). Ditetapkan sebagai Pusat Pelatihan yang dikembangkan menjadi Global Horbapreneur Academy. Melakukan pengkaderan 900 anak sebagai duta KTO Sari Alam dalam pencegahan dan pengobatan penyakit di lingkungan KTO Sari Alam. Mengembangkan herbarium dan laboratorium herbal untuk pengobatan klinis dan tradisional pada tahun 2020. - LSM Bahtera Melayu Bengkalis
Kab Bengkalis Riau. Menerima Kalpataru Penyelamat Lingkungan tahun 2008. Selain melestarikan mangrove, kelompok ini juga berprestasi mengembangkan pendidikan lingkungan SMP/SMA, pendampingan dan pemberdayaan masyarakat, penguatan kapasitas kelompok pengelola mangrove, dan advokasi lingkungan. Program Pendidikan Generasi Hijau yang bertransformasi menjadi pendampingan sekolah adiwiyata.
Konservasi ikan terubuk endemik (peningkatan populasi) bersama Fakultas Perikanan Universitas Riau tahun 2020 sampai sekarang. Program MERA 2021 (Mangrove Ecosystem Restoration Alliance): Mendukung Model Solusi lklim Alami, untuk Mangrove (2023).
Pengembangan ekowisata kawasan mangrove dalam rangka peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui UMKM. (BC5)



















