balibercerita.com –
Sekaa Teruna (ST) Pamuke atau Persatuan Angkatan Muda Kedaton, Banjar Kedaton, Desa Sumerta Kelod, Denpasar Timur, menghadirkan garapan ogoh-ogoh sarat nilai filosofi Tri Hita Karana dalam menyambut Tahun Baru Caka 1948 atau hari raya Nyepi 2026. Mengusung tema “Memuliakan Air”, karya tersebut selaras dengan arahan Pemerintah Kota Denpasar yang menekankan pentingnya pelestarian dan pemuliaan air sebagai sumber kehidupan.
Tema memuliakan air menegaskan jika manusia hanya perantara, sementara tumbuhan sejatinya yang menjaga air. Konseptor ogoh-ogoh ST Pamuke, I Made Sudiatmika menjelaskan, karya ini terinspirasi dari berbagai gejala dan kejadian bencana alam yang belakangan kerap melanda Kota Denpasar, khususnya banjir di sejumlah wilayah.
Bencana tersebut tidak hanya menyebabkan kerusakan bangunan, tetapi juga menimbulkan korban jiwa, yang dinilai sebagai bentuk ketidakseimbangan hubungan manusia dan alam. Dalam perspektif ajaran Hindu, kondisi tersebut dipandang sebagai terganggunya harmoni Tri Hita Karana yakni hubungan manusia dengan Tuhan (parahyangan), manusia dengan sesama (pawongan), serta manusia dengan alam (palemahan).
Secara filosofis, karya ini juga mengangkat konsep Tri Pramana yaitu tiga unsur kehidupan yang dimiliki makhluk hidup. Tumbuhan memiliki bayu, hewan memiliki bayu dan sabda, sedangkan manusia dianugerahi Tri Pramana paling lengkap: bayu (tenaga), sabda (ucapan), dan idep (pikiran). “Ironisnya, manusia yang memiliki anugerah tersebut justru kerap menjadi penyebab ketidakseimbangan alam melalui eksploitasi hutan dan pembangunan tanpa tata kelola yang bijak,” ungkapnya.
Melalui ogoh-ogoh bertajuk “Kalpataru Amertaning Bhuwana”, ST Pamuke ingin menyampaikan bahwa selama ini justru alam, terutama tumbuh-tumbuhan, yang memuliakan air. Pepohonan besar di hutan berperan menyerap, menyimpan, dan menjaga ketersediaan air di dalam tanah. Keberadaan tumbuhan menjadi sumber kehidupan bagi makhluk lain, termasuk manusia. Ketika air terjaga, tanah menjadi subur, hewan memperoleh tempat hidup, dan ekosistem berjalan seimbang.
Lewat garapan ini, ST Pamuke berharap dapat menyampaikan pesan moral kepada masyarakat Sumerta, Kota Denpasar, hingga Bali secara luas. Masyarakat diajak merefleksikan kembali nilai keseimbangan alam serta mengimplementasikan ajaran Tri Hita Karana secara nyata, bukan sekadar wacana.
“Manusia yang memiliki bayu, sabda, dan idep seharusnya mampu menjaga keseimbangan alam, bukan justru merusaknya. Harapannya, melalui karya ini kita semua dapat mengevaluasi diri dan bersama-sama menjaga sumber kehidupan agar tetap lestari dan seimbang,” tegasnya. (BC18)














