balibercerita.com –
Kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) di Bali mulai mengganggu aktivitas masyarakat hingga sektor pariwisata. Meski Pertamina mengaku telah mengupayakan percepatan distribusi, antrean panjang kendaraan masih terlihat di SPBU hingga Kamis (15/10).
Masyarakat harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mendapatkan BBM. Kondisi yang berlangsung hampir sepekan ini bahkan membuat sebagian pekerja memilih mengurangi aktivitas karena kesulitan memperoleh bahan bakar, termasuk mereka yang menggantungkan penghasilan dari sektor pariwisata.
Seorang pemuda bernama Febri mengaku harus mengantre selama 2 jam untuk mendapatkan Pertamax di salah satu SPBU di Kecamatan Abang, Karangasem. Dia mulai mengantre pada Selasa (13/10) pukul 23.00 Wita dan baru memperoleh BBM pada Rabu (14/10), sekitar pukul 01.00 Wita dini hari.
Dia sengaja datang pada malam hari karena mengetahui SPBU tersebut beroperasi selama 24 jam. Baginya, mengantre hingga larut malam menjadi pilihan yang harus dilakukan demi memenuhi kebutuhan keluarga. “Namanya kebutuhan untuk bekerja dan untuk keluarga juga. Kalau tidak begitu tidak bisa ke mana, gimana saya bekerja,” ujar pria yang bekerja harian lepas.
Pengalaman serupa dialami Eka Wijaya, pemuda asal Karangasem yang tinggal di Denpasar ini mengaku menghabiskan waktu sekitar 3,5 jam untuk mendapatkan BBM di SPBU Jalan Gunung Salak, Denpasar, pada Selasa sore. Ia mulai mengantre pukul 16.30 Wita dan baru mendapatkan BBM sekitar pukul 20.00 Wita. Dia terpaksa bertahan dalam antrean panjang karena hendak pulang kampung untuk mengikuti persembahyangan.
Selain kelangkaan BBM, proses pemindaian barcode pengisian BBM juga turut menambah waktu tunggu karena pengendara harus menunggu proses tersebut sebelum mendapatkan pelayanan. Selain itu, antrean yang dinilainya kurang teratur membuat situasi semakin tidak nyaman.
Lamanya mengantre membuat rencana perjalanan pulang pada malam hari terpaksa diurungkan. Dia memilih menunda perjalanan hingga dini hari keesokan harinya karena sudah kelelahan setelah menunggu berjam-jam.
Sebelum memutuskan mengantre di SPBU, Eka sempat berpikir membeli BBM di Pertashop atau warung eceran agar tidak perlu menunggu lama. Namun, warung-warung yang biasanya menjual eceran juga kehabisan BBM. Alhasil, mengantre di SPBU menjadi pilihan yang tersisa. “Penjual bensin mengaku kehabisan stok. Entah sampai kapan ini berlangsung,” ungkapnya.
Dampak kelangkaan ini juga dirasakan Eka dalam pekerjaannya sebagai pemandu wisata atau guide. Selama hampir sepekan terakhir, dia mengaku tidak mengambil pekerjaan karena kesulitan mendapatkan BBM untuk menunjang mobilitasnya.
Dia khawatir kesulitan memperoleh bahan bakar akan mengganggu pelayanan kepada wisatawan dan memicu keluhan. Karena itu, dia memilih mencari pekerjaan atau sumber penghasilan lain yang tidak banyak membutuhkan BBM.
Sementara itu, antrean panjang kendaraan masih terjadi di hampir seluruh SPBU kawasan Kuta Selatan pada Selasa. Kedatangan mobil tangki pengangkut BBM bahkan langsung disambut pengendara yang telah menunggu untuk mengisi bahan bakar.
Di SPBU pintu masuk Perumahan Taman Griya, Jimbaran, antrean kembali memanjang sesaat setelah mobil tangki tiba. Pengendara harus menunggu hampir 1 jam sejak kedatangan mobil tangki hingga memperoleh BBM. Di bawah terik matahari, sejumlah pengendara bahkan meninggalkan kendaraannya sejenak untuk berteduh.
Pasokan yang datang ternyata belum mampu mengurai antrean. Kendaraan roda dua dan roda empat kembali mengular hingga ke Jalan Bypass Ngurah Rai. Kondisi ini berdampak pada arus lalu lintas, khususnya jalur dari arah Nusa Dua menuju Jimbaran.
Antrean lebih parah terlihat di SPBU kawasan Taman Mumbul. Kendaraan memanjang hingga ke Jalan Bypass Ngurah Rai pada jalur Jimbaran menuju Nusa Dua. Sejumlah pengendara sepeda motor bahkan terpaksa berderet di atas trotoar karena jalur utama telah dipenuhi kendaraan roda empat yang mengantre.
Pemandangan serupa terjadi di SPBU Jalan Uluwatu II, Jimbaran. Antrean sepeda motor memanjang hingga nyaris mencapai Simpang Universitas Udayana (Unud). Kemacetan pun tak terhindarkan pada ruas jalan dari Simpang Unud menuju Jimbaran hingga Simpang Kali.
Di SPBU Pertamina 54.803.35, Jalan Raya Uluwatu, Ungasan, antrean juga mengular hingga ke akses jalan pada Selasa siang. Saat itu, pasokan BBM belum tiba sehingga pengendara yang telanjur mengantre harus menunggu tanpa kepastian waktu.
Wahyu, warga Pecatu yang sehari-hari bekerja sebagai pengemudi ojek daring, mengaku telah berupaya mendapatkan BBM sejak pukul 04.00 Wita. Namun, sekitar pukul 06.00 Wita, dia mendapat informasi bahwa stok telah habis sehingga terpaksa pulang tanpa membawa BBM.
Dia kembali mendatangi SPBU sekitar pukul 10.00 Wita dengan harapan bisa mendapatkan Pertalite maupun Pertamax. Namun, kondisi tersebut membuatnya kehilangan waktu produktif. Wahyu mengaku sudah dua hari tidak bekerja karena kehabisan bensin, padahal sepeda motor merupakan sarana utama untuk mencari nafkah. (BC5)


















