Cerita Pemisahan Jawa-Bali di Balik Riwayat Pura Segara Rupek

0
1031
Pura Segara Rupek
Areal utama mandala Pura Segara Rupek. (BC5)

Singaraja, balibercerita.com –
Pura Segara Rupek berlokasi di kawasan Taman Nasional Bali Barat, Desa Sumberklampok, Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng. Di balik megahnya Pura Segara Rupek, yang terletak di ujung barat Pulau Bali, tersimpan legenda yang diyakini masyarakat Bali sebagai asal mula terpisahnya Pulau Jawa dan Bali.

Cerita ini disampaikan oleh Pemangku Pura Segara Rupek, Mangku Ketut Kasih, saat Bali Bercerita mewawancarainya beberapa waktu lalu. Ia menuturkan, asal usul Pura Segara Rupek berkaitan dengan perjalanan spiritual tokoh suci Dang Hyang Sidhimantra dan putranya, Manik Angkeran.

Mangku Ketut Kasih mengisahkan, awalnya Dang Hyang Sidhimantra hidup tanpa keturunan. Melalui tapa brata, ia memohon kepada dewata hingga dianugerahi sebuah manik bang yang kemudian menjelma menjadi seorang anak bernama Manik Angkeran.

Baca Juga:   Tiga Ribuan Umat Diperkirakan Laksanakan Persembahyangan Tahun Baru Imlek di Vihara Dharmayana/Leng Gwan Byo Kuta

Namun, saat dewasa, Manik Angkeran terjerumus dalam kebiasaan berjudi dan mengonsumsi minuman keras hingga jatuh miskin. Melihat hal itu, Dang Hyang Sidhimantra bersedih. Ia kemudian menerima pawisik (petunjuk gaib) bahwa keluarganya akan memperoleh rezeki dari Sang Naga Basuki yang bersemayam di Goa Raja, Besakih.

Manik Angkeran pun diutus untuk memohon karunia kepada Naga Basuki. Berkat ketekunannya beryoga, ia berhasil memperoleh emas dan perak. Sayangnya, keserakahan membuatnya memotong ujung ekor Naga Basuki yang berhiaskan permata. Perbuatan itu membuat Naga Basuki murka dan mengutuk Manik Angkeran hingga tubuhnya terbakar menjadi abu.

Baca Juga:   Pujawali di Pura Asem Sari Amerta Jimbaran, Bupati Adi Arnawa Teken Prasasti

Merasa kehilangan, Dang Hyang Sidhimantra memohon petunjuk kepada Naga Basuki. Sang naga bersedia menghidupkan kembali Manik Angkeran dengan syarat ekornya yang terputus harus disambung. Setelah syarat itu dipenuhi, Manik Angkeran dihidupkan kembali.

Namun, demi mencegah putranya kembali ke kebiasaan buruk, Dang Hyang Sidhimantra memohon agar Pulau Bali dan Pulau Jawa dipisahkan oleh laut. Permohonan itu dikabulkan, sehingga Manik Angkeran tidak lagi dapat menyeberang ke Jawa dan diminta mengabdi kepada Hyang Naga Basuki.

Baca Juga:   Pura Kereban Langit, Dikenal Sejak Zaman Kerajaan Bedahulu, Tempat Memohon Keturunan

Sebagai bentuk penghormatan, di Pura Segara Rupek dibangun palinggih untuk Ida Hyang Sidhimantra, Hyang Naga Basuki, Manik Angkeran, Palinggih Surya, dan Palinggih Taksu. Sementara itu, Pura Payogan berada di sekitar kompleks pura tersebut.

Menurut Mangku Ketut Kasih, tidak ada peninggalan fisik Dang Hyang Sidhimantra di pura ini. Upacara odalan digelar setiap setahun sekali pada Purnama Jyesta. Rangkaian persembahyangan biasanya dimulai dengan malukat di Pura Segara, dilanjutkan ke Pura Payogan, dan diakhiri di Pura Segara Rupek. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini