Beranda Budaya Ngusaba Segara dan Ngusaba Nini di Kusamba, Yowana Diajak Bangga Rawat Warisan...

Ngusaba Segara dan Ngusaba Nini di Kusamba, Yowana Diajak Bangga Rawat Warisan Leluhur

0
Ngusaba di Kusamba
Tradisi mapeed yang digelar, Minggu (25/10). Tradisi ini merupakan rangkaian karya ngusaba segara lan ngusaba nini di Pura Segara, Desa Adat Kusamba. (ist)

balibercerita.com –
Krama Desa Adat Kusamba, Desa Kusamba, Kecamatan Dawan, Klungkung, kembali melaksanakan karya ngusaba segara lan ngusaba nini di Pura Segara, Minggu (25/10), yang bertepatan dengan Purnama Kalima. Ritual tahunan ini menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian tradisi sekaligus mendorong keterlibatan generasi muda dalam menjaga warisan leluhur.

Salah satu rangkaian upacara ditandai dengan tradisi mapeed yakni iring-iringan krama yang mundut jauman dan pralingga Ida Batara dari Pura Puseh menuju Pura Segara. Prosesi yang menempuh jarak sekitar 1,5 kilometer tersebut diikuti ratusan krama desa, termasuk kalangan generasi muda.

Rangkaian upacara berlanjut pada Senin (26/10) dengan pelaksanaan nyepi segara. Selama tradisi ini berlangsung, seluruh aktivitas di laut dihentikan mulai pukul 06.00 hingga 18.00 Wita. Tradisi nyepi segara di Desa Adat Kusamba sendiri telah ditetapkan pemerintah pusat sebagai Warisan Budaya Tak Benda pada 2024.

Bupati Klungkung, I Made Satria turut menghadiri pelaksanaan karya tersebut. Bersama Bendesa Adat Kusamba, AA Raka Swastika, ia mengajak generasi penerus untuk mengambil peran dalam mempertahankan tradisi yang diwariskan para leluhur.

Baca Juga:   Setelah 48 Tahun, Karya Agung dan Nyenuk Ngingkup Kembali Digelar di Manukaya Let

Bendesa Adat Kusamba, AA Raka Swastika menilai ngusaba segara lan ngusaba nini bukan sekadar ritual keagamaan, tetapi juga mencerminkan kearifan lokal yang menjadi fondasi ketangguhan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan. Menurutnya, keterlibatan yowana dan sekaa teruna menjadi faktor penting agar tradisi tersebut tetap bertahan lintas generasi.

Atas dasar itu, pihak desa adat secara konsisten melibatkan anak-anak muda dalam berbagai tahapan persiapan upacara, mulai dari ngayah membuat uparengga atau perlengkapan upacara, menyiapkan penjor, hingga mengikuti prosesi mapeed.

“Pada akhirnya mau tidak mau generasi muda yang akan melanjutkan untuk merawat tradisi ngusaba segara lan ngusaba nini maupun nyepi segara di Desa Adat Kusamba ini. Intinya jangan malu melestarikan tradisi atau budaya kita, malah seharusnya bangga karena tidak semua orang atau daerah memiliki tradisi semacam ini,” kata Raka Swastika.

Baca Juga:   Ngusaba Kadasa di Pura Ulun Danu Batur, Bupati Adi Arnawa dan Wabup Bagus Alit Sucipta Pimpin Bhakti Panganyaran Pemkab Badung

Ia juga mengingatkan generasi muda agar memetik pelajaran dari bangsa lain yang mampu mempertahankan identitas budayanya. Menurut Raka Swastika, kekuatan budaya dapat menjadi salah satu penopang masyarakat maupun bangsa untuk bertahan menghadapi krisis. Ia mencontohkan Jepang dan Tiongkok sebagai negara yang mampu bangkit dan berkembang berkat kekuatan budayanya.

Sementara itu, Bupati Satria mengapresiasi semangat gotong royong masyarakat Desa Adat Kusamba yang didukung delapan banjar adat. Baginya, kebersamaan tersebut merupakan modal kultural yang berharga sekaligus salah satu unsur yang memperkuat taksu Bali.

Dukungan terhadap pelestarian tradisi juga datang dari kalangan yowana. Ketua Yowana Desa Adat Kusamba, I Dewa Agung Wahyu Arinatha, mengaku bangga karena desanya memiliki tradisi ngusaba segara lan ngusaba nini serta nyepi segara yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh pemerintah pusat.

Ia turut mengapresiasi komitmen desa adat yang memberikan ruang bagi generasi muda untuk terlibat langsung dalam pelaksanaan upacara. Keterlibatan tersebut dinilai penting untuk membangun pemahaman mengenai makna tradisi sekaligus mempersiapkan penerus pelestari budaya.

Baca Juga:   Penilaian Ogoh-ogoh di Badung Dimulai 18 Februari, Kriteria Ini Bisa Jadi Penentu Menang!

Pelaksanaan nyepi segara menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian karya ngusaba segara lan ngusaba nini di Pura Segara. Selama tradisi berlangsung, kawasan Pantai Kusamba ditutup dari aktivitas laut dan pesisir mulai pukul 06.00 hingga 18.00 Wita. Para nelayan tidak diperkenankan melaut, sementara pelanggaran terhadap ketentuan tersebut dapat dikenai sanksi adat.

AA Raka Swastika menjelaskan, nyepi segara merupakan wujud rasa syukur masyarakat sekaligus penghormatan terhadap laut dan seluruh isinya. Tradisi ini berkaitan erat dengan kehidupan masyarakat Kusamba yang selama ini bergantung pada hasil laut dan pertanian.

Ketua panitia karya, I Nengah Sumarnaya, menerangkan, rangkaian persiapan upacara telah dimulai sejak 8 Oktober 2026 melalui ayah-ayahan krama desa. Ida Batara akan nyejer selama 11 hari atau hingga 5 November mendatang sebelum rangkaian upacara berakhir. (BC13)