Beranda Budaya Mangku Muriati Perluas Pakem Lukisan Kamasan, Angkat Filosofi Flora dan Fauna

Mangku Muriati Perluas Pakem Lukisan Kamasan, Angkat Filosofi Flora dan Fauna

0
Lukisan Kamasan
Mangku Muriati (tengah). (ist)

balibercerita.com –
Seni lukis Kamasan tak hanya berbicara tentang epos klasik. Seniman Bali, Mangku Muriati mencoba memperluas ruang ekspresi seni tradisi tersebut dengan mengangkat flora dan fauna sebagai representasi filosofi kehidupan, sekaligus menyampaikan pesan tentang keseimbangan alam dalam pameran Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi di Museum Pasifika, Nusa Dua, pada 9 Oktober–9 Desember 2026.

Melalui karya bertajuk “Flora dan Fauna”, Muriati menghadirkan perspektif tentang keterhubungan manusia, tumbuh-tumbuhan, dan hewan sebagai bagian dari satu kesatuan kehidupan. Gagasan tersebut berangkat dari filosofi Bali yang menempatkan alam bukan sekadar penopang kehidupan, melainkan bagian yang harus dihormati dan dijaga keseimbangannya.

Keikutsertaan Muriati dalam pameran yang melibatkan 30 seniman perempuan dari 12 negara itu menjadi kebanggaan tersendiri. Ia melihat kesempatan tersebut sebagai ruang untuk memperkenalkan seni lukis Kamasan kepada khalayak internasional, sekaligus menunjukkan bahwa perempuan seniman memiliki gagasan yang dapat berkontribusi dalam percakapan seni lintas negara.

Baca Juga:   Pemilihan Bendesa Adat Pecatu Jadi Momentum Merajut Kebersamaan Krama

“Saya sangat bangga karena mendapat kesempatan berpameran dalam momen besar yang melibatkan seniman perempuan dari 12 negara. Dalam hal ini, saya bisa dikatakan turut mewakili Kamasan,” ungkapnya.

Sebagai salah satu tradisi seni lukis klasik Bali, Kamasan memiliki pakem yang diwariskan secara turun-temurun dan selama ini dikenal melalui penggambaran kisah-kisah epos. Namun, Muriati berupaya menghadirkan tema berbeda tanpa melepaskan akar tradisi dan filosofi yang mendasarinya.

Dengan bekal pendidikan seni yang dimilikinya, ia memberanikan diri mengembangkan tema penciptaan alam semesta melalui penggambaran flora dan fauna. Baginya, pendekatan tersebut menjadi cara untuk menghadirkan pesan yang tetap berakar pada kebudayaan Bali, tetapi relevan dengan persoalan kehidupan saat ini.

Baca Juga:   Paspor Baru Kini Berlaku 10 Tahun

Muriati menjelaskan, penghormatan terhadap alam dalam kebudayaan Bali tercermin melalui berbagai tradisi diantaranya Tumpek Wariga untuk tumbuh-tumbuhan dan Tumpek Kandang untuk hewan. Tradisi tersebut mengandung ungkapan syukur kepada Tuhan atas alam beserta seluruh isinya. “Bukan berarti kita menyembah pohon. Yang disembah adalah Tuhan sebagai penciptanya. Begitu juga dengan binatang, karena Tuhan menciptakan alam semesta beserta seluruh isinya,” jelasnya.

Pesan tersebut juga berkaitan dengan konsep tri pramana, yang dalam pemahaman Hindu Bali menjelaskan tingkatan daya hidup pada tumbuh-tumbuhan, hewan, dan manusia. Ketiganya memiliki karakteristik berbeda, tetapi saling berkaitan dalam keberlangsungan kehidupan.

Manusia membutuhkan tumbuh-tumbuhan dan hewan, sementara kelestarian alam turut bergantung pada cara manusia memperlakukan serta merawatnya. Hubungan timbal balik inilah yang menjadi salah satu gagasan utama dalam karya Muriati.

Baca Juga:   Usung Tema "Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha", PKB XLVIII Libatkan 20.929 Seniman

Ia menegaskan, pengembangan tema dalam seni lukis Kamasan bukan sekadar menghadirkan pembaruan visual. Upaya tersebut menjadi cara untuk menyampaikan kembali nilai-nilai filosofis yang hidup dalam kebudayaan Bali melalui bahasa seni.

Keterlibatan Muriati juga menjadi bagian dari semakin terbukanya ruang bagi seniman perempuan untuk memperlihatkan karya dan pemikirannya. Ia mengingat pengalaman berpameran bersama para dosen perempuan Institut Seni Indonesia (ISI) pada 2019, yang menjadi salah satu kesempatan penting dalam perjalanan berkaryanya.

Melalui pameran internasional tersebut, Muriati kembali membawa tradisi Kamasan ke ruang perjumpaan yang lebih luas. Karyanya menghadirkan dialog antara warisan seni klasik, pemikiran perempuan, dan filosofi Bali tentang hubungan manusia dengan alam semesta. (BC5)