
balibercerita.com –
Mamaka Hotels & Resorts kembali menggelar Mamaka Fun Run untuk ketiga kalinya di Pantai Kuta, Minggu (18/10). Tahun ini, kegiatan lari tahunan tersebut menggandeng organisasi nirlaba Shuffle & Strides untuk mendukung perluasan akses edukasi kesehatan mental melalui program Mental Health Awareness Training (MHAT).
Program pelatihan gratis selama dua hari ini dirancang untuk membantu masyarakat mengenali tantangan kesehatan mental, memahami cara memberikan dukungan awal, serta mengetahui kapan seseorang membutuhkan bantuan profesional. Melalui inisiatif ini, Mamaka memperluas misi sosial Fun Run yang sebelumnya berfokus pada dukungan pendidikan anak melalui Bali Children Foundation (BCF).
Mamaka Fun Run pertama kali diselenggarakan pada 2024 sebagai ajang lari amal sejauh 5 kilometer di kawasan Kuta dan Legian. Dana yang terkumpul digunakan untuk mendukung program pendidikan BCF. Pada penyelenggaraan kedua tahun 2025, acara ini berkembang dengan menghadirkan lebih dari 700 pelari dan kategori 10K, melengkapi kategori 5K yang telah tersedia sebelumnya.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan hiburan, zumba, aktivitas keluarga, serta partisipasi berbagai komunitas lari, termasuk Shuffle & Strides, Indorunners Bali, CCRC, HOTR, Gianyar Runners, dan kelompok lari lokal lainnya. Seluruh hasil pendaftaran disumbangkan kepada BCF untuk mendukung program pendidikan.
Memasuki edisi ketiga, Mamaka mengalihkan fokus dukungan sosialnya pada edukasi kesehatan mental, tanpa meninggalkan semangat kebersamaan yang menjadi dasar penyelenggaraan acara sejak awal. Pentingnya edukasi tersebut tercermin dalam sejumlah data kesehatan nasional. Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi depresi nasional sebesar 1,4%, dengan angka 2% pada kelompok usia 15–24 tahun.
Sementara itu, survei kesehatan mental remaja nasional menemukan bahwa 5,5% remaja Indonesia berusia 10–17 tahun mengalami gangguan mental, termasuk kecemasan, depresi, gangguan stres pascatrauma atau PTSD, serta ADHD.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) juga melaporkan bahwa persentase pelajar Indonesia berusia 13–17 tahun yang pernah secara serius mempertimbangkan bunuh diri meningkat dari 5,4% pada 2015 menjadi 8,5% pada 2023. WHO menekankan pentingnya memperluas akses terhadap layanan kesehatan mental dan dukungan psikososial yang berkualitas.
Data tersebut menunjukkan perlunya meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kesehatan mental, termasuk kemampuan mengenali tanda-tanda seseorang yang sedang mengalami kesulitan, memulai percakapan secara suportif, dan mengarahkan mereka kepada bantuan yang tepat.
General Manager Mamaka Hotels & Resorts, Joel Bartlett mengatakan, dukungan terhadap edukasi kesehatan mental merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap kesejahteraan masyarakat. “Bagi kami, memilih kesehatan mental untuk Mamaka Fun Run Vol. 3 adalah keputusan yang sangat alami,” katanya.
Melalui kemitraan dengan Shuffle & Strides, Mamaka mendukung perluasan MHAT, yang membekali peserta dengan pengetahuan praktis untuk menghadapi persoalan kesehatan mental di lingkungan sehari-hari. Materi pelatihan mencakup pengenalan tanda dan gejala tantangan kesehatan mental, cara berkomunikasi dengan seseorang yang sedang mengalami kesulitan, langkah-langkah memberikan dukungan awal, serta pemahaman mengenai sumber informasi dan pilihan perawatan yang tersedia. Program ini tidak bertujuan menjadikan peserta sebagai tenaga profesional kesehatan mental, melainkan meningkatkan pengetahuan dan kepercayaan diri mereka dalam mendukung orang lain.
Shuffle & Strides merupakan organisasi nirlaba yang berupaya mengurangi stigma kesehatan mental melalui edukasi berbasis komunitas, aktivitas fisik, dan percakapan terbuka. Selain MHAT, organisasi ini juga menjalankan kegiatan lari komunitas dan menyediakan layanan konseling bersubsidi bagi individu yang membutuhkan dukungan profesional.
Dukungan Mamaka terhadap MHAT telah berjalan sebelum penyelenggaraan Fun Run tahun ini, termasuk melalui dukungan acara dan produksi. Melalui Vol. 3, dana yang terkumpul dari kegiatan lari akan membantu membuka lebih banyak kesempatan pelatihan sehingga program tersebut dapat menjangkau lebih banyak peserta di Bali dan wilayah Indonesia lainnya.
Kolaborasi ini melanjutkan hubungan kedua organisasi yang sebelumnya juga terlibat dalam Mamaka Fun Run Vol. 2 pada 2025. Kesamaan visi mengenai pentingnya aktivitas fisik dan keterlibatan komunitas menjadi landasan untuk memperluas kerja sama dari kebugaran fisik menuju kesejahteraan mental.
“Kami selalu percaya bahwa komunitas adalah jantung dari Mamaka Fun Run,” kata Joel Bartlett.
Sebelum mengangkat isu kesehatan mental, Mamaka Fun Run selama dua edisi pertama mendukung program pendidikan dan perbaikan sekolah bagi anak-anak di Bali melalui BCF. Pada 2025, peserta juga diperkenalkan dengan kisah Giri, seorang siswa yang memperoleh dukungan BCF untuk melanjutkan pendidikan dan kemudian mulai bekerja di Mamaka.
Melalui perubahan fokus ini, Mamaka tetap mempertahankan komitmen terhadap pendidikan sebagai sarana menciptakan peluang dan perubahan positif. Pada edisi ketiga, prinsip tersebut diwujudkan melalui peningkatan pengetahuan masyarakat tentang kesehatan mental dan pentingnya membangun lingkungan yang suportif. (BC10)

















