balibercerita.com –
Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Wilayah Bali mendesak dilakukannya investigasi menyeluruh terkait kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) yang telah memicu antrean panjang hingga empat hari di berbagai SPBU se-Bali.
Ketua MTI Wilayah Bali, Dr. Ir. I Made Rai Ridartha, ATD., M.Eng.Sc., menilai kendala yang menyebabkan kapal tanker Pertamina sulit lego jangkar di Depo Manggis maupun Pesanggaran perlu diteliti secara obkektif, mengingat fenomena serupa tidak pernah terjadi pada tahun-tahun sebelumnya di bulan yang sama.
“Tentu ini saya sarankan harus ada investigasi soal kebenaran ini. Ini penting supaya kejadian ini tidak terulang dan tidak diulangi,” kata Rai Ridartha, Kamis (15/10).
Rai Ridartha menegaskan, krisis BBM dalam beberapa hari terakhir membuktikan betapa rentannya ketahanan logistik dan mobilitas masyarakat Bali. “Rata-rata untuk melumpuhkan Bali ini gampang sekali, jangan kasih BBM saja, Bali langsung lumpuh. Waktu Covid-19 tiga tahun kita bertahan karena BBM ada. Tapi begitu BBM tidak ada, baru berapa hari saja sudah lumpuh,” ujanya.
Dampak antrean kendaraan yang mengular di SPBU hingga malam hari tidak hanya menyita waktu warga hingga 3 hingga 4 jam, tetapi juga memicu kemacetan parah di jalan raya. Penyempitan dan penutupan jalur akibat antrean BBM mengunci pergerakan warga serta melumpuhkan aktivitas ekonomi lokal.
Terkait wacana penambahan armada truk tangki oleh Pertamina, MTI Bali meragukan efektivitas langkah tersebut jika didatangkan dari luar daerah dalam waktu singkat. “Saya ragu, menambah truk tangki mau dari mana? Membangun truk tangki tidak mungkin cepat, mendatangkan dari Jawa juga sulit. Yang perlu ditambah itu frekuensi pengirimannya,” tegas pakar transportasi Bali tersebut.
Namun, peningkatan frekuensi pengiriman dipastikan menghadapi kendala jarak dan daya tahan pengemudi. Rute pengiriman jauh seperti dari Depo Manggis ke Tabanan membutuhkan waktu tempuh hingga 6 jam pulang-pergi, sehingga pengiriman berkali-kali berpotensi memicu kelelahan pengemudi dan risiko kecelakaan lalu lintas.
Oleh karena itu, MTI Bali mendesak Pertamina dan pihak berwenang melakukan pengawasan ketat terhadap pola distribusi, penetapan pola operasional armada yang presisi per SPBU, serta memberikan transparansi informasi pasokan secara terbuka kepada masyarakat guna menghindari kepanikan publik. (BC18)


















