balibercerita.com –
Suasana Balai Budaya Gianyar berubah drastis pada Selasa (15/4) malam. Ribuan pasang mata terpaku, sementara tepuk tangan riuh mengisi udara. Dalam rangka HUT Kota Gianyar ke-255, untuk pertama kalinya tari janger klasik tampil sebagai bagian dari perayaan. Kehormatan tersebut diemban oleh Janger Galuci dari Desa Adat Tegalsuci, Desa Sebatu, Kecamatan Tegallalang.
Pertunjukan ini menghadirkan atmosfer berbeda dari biasanya. Tanpa efek pencahayaan modern atau sentuhan musik kontemporer, pementasan justru mengandalkan unsur tradisi diantaranya prada yang sederhana, gelungan bergaya 1930-an, iringan gambelan Semar Pegulingan, serta gerak tari yang polos namun sarat makna silih asih. Kesederhanaan tersebut justru menjadi daya tarik kuat, membawa penonton larut dalam suasana yang terasa seperti kilas balik ke masa lalu.
Pembina sekaa yang juga Kelian Dinas Banjar Tegalsuci, I Wayan Degus Jaya menegaskan bahwa pertunjukan ini memiliki makna lebih dari sekadar hiburan. “Janger ini tidak sekadar pementasan, namun lebih menekankan pesan penting lewat lirik lagu. Mulai dari hubungan harmonis dengan Tuhan, dengan sesama, dan juga mencintai alam Bali ini,” ujarnya usai pementasan.
Nilai-nilai Tri Hita Karana pun terasa jelas sepanjang pertunjukan. Ungkapan rasa syukur kepada pasuwecan Dewi Danu di Tukad Dapdap, kebersamaan masyarakat di pematang sawah, hingga kecintaan terhadap bentang alam Tegalsuci tergambar melalui lantunan tembang dan gerak tari.
Penampilan Janger Galuci malam itu seakan menegaskan satu hal yakni kesenian klasik tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu momen untuk kembali hadir dan menyapa zaman. (BC10)














